Selasa, 07 Juli 2020

PARHUNDUL POMPARAN GURU TATEA BULAN,BORBOR MARSADA,IBORBORON,ILOTTUNGON,NAIMARATA,SILAU RAJA.

Mari kita amati perlahan makna2 dari PARHUNDUL atas nama parsadaan atau kesatuan nama nama tersebut secara bijak dan seksama,dan gak perlu bertele tele,cukup singkat dan mudah dimengerti.
Kita kupas satu persatu sbb

POMPARAN GURU TATEA BULAN sbb
Nama dari op guru tatea bulan sudah jelas merujuk pd generasinya yg pertama yaitu.
1 op namarsangap Raja biak biak
2 op tuan sariburaja
3 limbong mulana
4 sagala raja
5 silau raja
Demikian hingga generasi berikutnya dari generasi kelima opung itu.

Berlanjut dengan sejarah berikutnya antara op sariburaja dan limbong sagala,yg mungkin telah dianggap berbuat kesalahan yg dianggap sangat melanggar aturan adat yg berlaku pd jaman itu.karna op sariburaja dituduhkan melakukan hubungan perasaan dengan ibotonya br pareme,hal ini di benarkan oleh pihak adiknya limbong sagala,lalu adiknya yg satu yaitu silau raja menginformasikan rencana2/keinginan limbong sagala untuk membunuh op sariburaja,namun op silau raja merahasiakan kberadaan op sariburaja.
Sementara dalam pencarian op saribura,limbong sagala mengasingkan/mengusir boru pareme kesebuah hutan yg 
Karna tidak diperbolehkan lagi tinggal dikampung itu dgn alasan melanggar aturan adat yg berlaku.
Kisah singkat ini cukup menjelaskan bahwa antara op sariburaja dan limbong sagala jelas jelas terpisah atau tdk ada hubungan apalagi.
Kekejaman limbong sagala sangat membutakan mata hatinya,apakah ini semua punya alasan,!!!,??
Namun intinya adalah perpisahan sebagai abang beradik.
Klu kita maknai dari kisah ini tidak tertutup kemungkinan bisa berdampak pd keturunan berikutnya.

BORBOR MARSADA sbb
Kalau kita berbicara sudah tak asing,
Makna dari BORBOR MARSADA secara lebih spesifik(boleh baca dulu isinya agar faham)
Keberadaan BORBOR MARSADA bermula setelah sejarah dari op sariburaja,yg dianggap melakukan kesalahan atas tuduhan limbong sagala terhadap abangnya op sariburaja dan ibotonya boru pareme telah terusir dari sianjur mula mula,dan op sariburaja saat itu sedang meninggalkan opung boru nai mangiring laut istri op sariburaja di sianjur mula mula sedang keadaan hamil.
Nah setelah sekian lama,tibalah waktunya kelahiran op si raja borbor dari ibunya nai mangiring laut,dan dihadiri para adek2nya limbong sagala dan silau raja.
Semasa hidup op si raja borbor inilah situasi antara si raja borbor dan limbong sagala,silau raja mulai ada kebersamaan/merasa bersatu.
Siraja borbor mempunyai seorang anak bernama balasahunu(op raja hatorusan II).
Sekian lama kehidupan telah berjalan tanpa kehadiran op sariburaja selaku kakek dari op raja hatorusan II,inilah fakta sejarah yg menunjukkan terpecahnya hubungan op sariburaja dgn limbong sagala.
Hingga op raja hatorusan II beranjak dewasa
nah setelah sekian lama berlalu setelah si raja borbor dan siraja lottung(anak dari boru pareme) meninggal,op raja hatorusan II lah yg mengambil alih kepemimpinan,
Atas usul keturunan Limbong Mulana
Sagala Raja dan Malau Raja, perlu diadakan kesepakatan bersama antara keturunan Siraja Borbor dengan Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja. Karena ketika Siraja Borbor lahir Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja ikut kena hujan lebat (iborbor udan) dan merasa ikut memiliki hujur siringis. Maka untuk nama keempat keturunan Siraja Borbor, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja diberi nama Borbor Marsada. dengan ikrar sebagai berikut :

1) Nama persatuan (Parsadaan) untuk keturunan SIRAJA BORBOR, LIMBONG MULANA, SAGALA RAJA, dan MALAU RAJA adalah BORBOR MARSADA.

2) Keturunan keempat bersaudara akan sisada lulu anak sisada lulu boru.

3) Walaupun dibelakang hari dari keempat bersaudara tumbuh marga baru, sesama keturunan mereka tidak diizinkan saling kawin (anak lelaki yang satu tidak boleh mengawini anak perempuan yang lainnya walaupun sudah menggunkan marga baru).

4) Apabila ada paniaran (istri) salah satu dari BORBOR MARSADA menjadi janda, anggota keluarga BORBOR MARSADA sama haknya untuk mengawini (manghabia) kecuali ada pertimbangan lain.

5) Apabila ada yang terlanjur melanggar point tiga diatas, tidak perlu lagi dipisahkan bila sudah saling mengasihi. Kekerabatan yang timbul oleh perkawinan terlarang tersebut, hanyalah sebatas umur mereka dan keturunannya tidak bisa lagi menyambung hal serupa (manunduti).

Demikianlah kisah singkat keberadaan BORBOR MARSADA.

IBORBORON sbb
sekilas memaknai antara borbor dan iborboron.
Borbor adalah nama op si raja borbor yg lahir dari seorang ibu bernama nai mangiring laut dan bapaknya op tuan sariburaja,
Lalu apa itu Iborboron,sejak kelahuran op si raja borbor ketika bersamaan dgn hujan ikut dihadiri limbong sagala silau raja.
Karena ketika Siraja Borbor lahir Limbong Mulana, Sagala Raja dan Malau Raja ikut kena hujan lebat (iborbor udan) dan merasa ikut memiliki hujur siringis.
Disaat kelahirannya mereka serentak menyambut kelahiran raja borbor  dengan sahutan serentak mengatakan " Iborboron"
Sebutan iborboron inilah mengawali nama kebesaran op guru tatea bulan bapak dari op tuan sariburaja(anak tertua yg punya keturunan).

ILOTTUNGON.
jika kita cermati kata/kalimat ILOTTUNGON,
Seakan berdampak sedikit aneh,sementara ILOTTUNGON dikenali secara umum adalah gelar/sebutan utk op guru tatea bulan,memang berdampak tdk masuk akal klau nama ini sebenarnya adalah dari op siraja lottung anaknya op sariburaja dan boru pareme.
Kisah op sariburaja dan boru paremelah yg menjadi bomerang bagi limbong sagala,yg tak pernah berakhir sampai saat ini,namun apapun yg terjadi siraja lottung tidak terlepas
dari keturunan op sariburaja.
Singkat cerita...,
Apa itu ILLOTUNGON,!?
ILOTTUNGON adalah penggandaan nama dari kedua nama keturunan op sariburaja.
Yaitu IBORBORON dan LOTTUNG menjadi ILOTTUNGON.
nama inilah yg dipangku oleh OP GURU TATEA BULAN sampai saat ini.

NAIMARATA...
klau naimarata sebenarnya tidak tepat klu saya membicarakan ini,misi naimarata hanya berhak dikelola dan diketahui naimarata itu sendiri.
Yg dapat saya pertanyakan kenapa harus ada parsadaan naimarata setelah keberadaan BORBOR MARSADA,dan kenapa harus NAIMARATA,
sebutan NAIMARATA inilah yg bisa saya definisikan,dan yg harus kita akui,bahwa naimarata adalah sebuah gelar yg telah di pangku op guru tatea bulan,ini terjadi sekitar 1927 jaman politik perdagang dalam pembentukan kesultanan simarata,kelengkapan nama ini disebut Op tuan sorimangarata
Nama ini memang ada tapi bukan sebagai nama atau panggoaran dari generasinya,melainkan sebuah julukan utk perebutan kesultanan simarata,nama Tuan sorimangarata dipangku oleh op guru tatea bulan ketika perencanaan pembentukan kesultanan simarata namun pembentukan kesultanan itu gagal.
Demikianlah sedikit ttg penjelasan asal usul adanya kata naimarata.
Pertanyaannya kenapa naimarata diklaim untuk nama parsadaan saat ini.
Jawabannya singkat,
Nama naimarata adalah pengangkatan derajat/atau kedudukan,Inilah ide dari limbong sagala,beliau berasumsi bahwa nama naimarata adalah nama op guru tatea bulan,agar bisa merasa setara dgn illotungon ,ternyata kenyataan tidak demikian hingga saat ini,
Dan masih banyak sebenarnya kekurangan2 pihak terutama limbong sagala dalam menyepakati parsadaan borbor marsada yg mereka usulkan dahulu.
Mengapa..!?
Klu kita baca isi ikrar borbor marsada.
((Mungkin bleh cari sendiri isi ikrarnya))
Hampir semua tidak di sepakati khususnya limbong sagala.
Terjadi penghianatan dalam ikrar itu sendiri.
Dengan sekarang ini mereka telah mengembangkan sayap sebagai naimarara.
Borbor marsada hanya masa lalu utk mereka yg tinggal didalam hanya pomparan si raja borbor yg dijadikan kambing hitam utk parsadaan "borbor marsada" tersebut.
Sekarang ini pomparan borbor lah penghuni borbor marsada,namun konteks  apa yg telah di ikrarkan tidak lagi sesuai dgn penghuni borbor marsada sekarang ini.
Isi ikrar borbor marsada membuat pihak limbong sagala sesuka hati,mereka berasumsi bisa masuk dan keluar dari borbor marsada kapan saja,namun tetap mengembangkan sayapnya di "naimarata"
Pomparan borbor terdiam sebagai penghuni utama di borbor marsada dgn ikrar yg sudah tidak masuk akal akibat usulan limbong sagala.
Naimarata inilah dijadikan momentum yg tepat oleh limbong sagala utk parsadaan yg teguh.
Nah yg jd pertanyaan kemanakah seharusnya pomparan borbor menyatukan dirinya untuk membentuk parsadaan yg teguh,
Jawabanya adalah ILOTTUNGON,
karna ilottungon adalah penggandaan nama iborboron dan lottung yg sebenarnya anak dari Op tuan sariburaja.
Memang sulit untuk mengarah kesana karena lottung adalah keturunan namboru dari borbor itu sendiri.
Tapi ilottungon juga tidak terleoas krn nama ini telah di pangku oleh op guru tatea bulan.
Mau tidak mau hubungan yg sedarah dan satu bapak adalah paling utama hrs tetap bersaudara.
Mari kita renyngkan bersama.

SILAU RAJA sbb
Silau raja adalah keturunan kelima((siappudan))
tudak ada yg bisa saya jelaskan,kecuali apapun yg terjadi dibelahan borbor marsada atau naimarata namun silau raja sudah punya parsadaan teguh di pomparan silau raja.
Silau raja cukup netral dalam menyikapi permasalahan turun temurun dari sejarah oppung kita semua.



Minggu, 28 Juni 2020

KISAH SINGKAT KEBERADAAN ILOTTUNGON-IBORBORON & NAIMARATA

Ilottungon.... 
Setelah boru pareme melahirkan,dia memberi nama anaknya siraja lottung, yg kabarnya dari beberapa buku sumber,nama ini sebelumnya sudah dipesankan sariburaja kepada boru pareme, jika anaknya lahir kelak diberi nama si raja lottung,

Dalam selang waktu yg tidak begitu lama, mangiring laut istri dari sariburaja melahirkan anak,lalu laki laki di beri nama raja iborboron.

Setelah kelahiran raja iborboron 
Dan kelahiran siraja lottung. 
Dan sebenarna keduanya adalah putra dari op sariburaja. 
Kedua putra ini adalah sedarah lain ibu dan satu bapak dari op sariburaja.keduanya mempunyai posisi yg sama dari garis keturunan dan tak dapat dipungkiri karna kedua putra tersebut adalah keturunan dari satu bapak yaitu op sariburaja anak tertua diantara adik2nya limbong sagala dan silau raja (sebenarnya anak sulung guru tatea bulan adalah op raja uti) namun tidak punya keturunan secara biologis).
Atas usul dari op raja uti,agar suatu kelak nama siraja lottung digandakan,diambil dari nama si raja iborboron.
I  borboron - lottung  demikianlah penggandaanya menjadi  ilottungon
Sesuai pesan op raja uti. 
Nama inilah yg dipangku op guru tatea bulan dari garis generasinya. 

Sebelum guru tatea bulan memangku nama ilottungan,sebenarnya guru tatea bulan sudah memangku nama kehormatan sebagai raja sorimangarata,julukan ini adalah sebuah penghormatan pd zaman kolonial belanda 1929(kisahnya ada pd blog ini dengan judul gagalnya kesultanan simarata) 

Naimarata adalah pengklaiman dari nama op tuan sorimangarata (guru tatea bulan). 
Lalu pertanyaanya kenapa harus dari nama guru tatea bulan diambil nama naimarata tersebut...? 
Tujuannya adalah agar posisi naimarata setara/ dengan ilottungon,agar naimarata tetap memangku nama guru tatea bulan.
Dari garis keturunan atau kedudukan secara alami otomatis ilottungon lah yg memangku nama guru tatea bulan. 
Beda dengan cara akal dan pemikiran dalam tujuan tertentu hingga mengklaim nama kehormatan op guru tatea bulan yg memangku nama penghormatan sebagai tuan sorimangarata lalu di klaim menjadi naimarata terkesan kurang alami. 

Begitulah kisah singkat keberadaan naimarata & ilottungon..

GAGALNYA PEMBENTUKAN NAIMARATA

Gagalnya Pembentukan Kesultanan Simarata di Tanah Batak

Seandainya Luther tidak terciduk intel Gubernemen di Doloksanggul, Humbang tahun 1929 maka dinamika sejarah politik Tanah Batak masa kolonial mungkin telah melahirkan sebuah kesultanan baru, Kesultanan Simarata yang mencakup wilayah Barus dan Limbong-Sagala.


Setidaknya, jika diandaikan juga Gubernemen atau Pemerintah Kolonial Belanda menolak aspirasi politik tersebut, setidaknya sejarah akan mencatat adanya gerakan terbuka untuk membentuk Kesultanan Simarata di Tanah Batak.


Tidak banyak orang yang tahu, bahkan orang Batak sendiri, mengenai gagasan pembentukan kesultanan itu. Sampai kemudian penyair Sitor Situmorang (2004) membuka fakta itu dalam bukunya, Toba Na Sae, sebuah karya wajib baca bagi pengkaji Batak Toba.


Bagian dari Lembah Limbong Sagala dengan latar belakang Gunung Pusukbuhit, Samosir (Foto: terakurat.com)

Bagian dari Lembah Limbong Sagala dengan latar belakang Gunung Pusukbuhit, Samosir (Foto: terakurat.com)

Luther yang terciduk spion Belanda itu adalah salah seorang dari komite (panitia) pembentukan Kesultanan Simarata. Saat dia tertangkap tahun 1927, upaya pembentukan kesultanan itu masih berupa “gerakan bawah tanah”.


Pertanyaan penting di sini, siapa itu Simarata dan mengapa muncul gerakan politik pembentukan Kesultanan Simarata di Tanah Batak?.


Penjelasannya cukup kompeks tapi, dengan merujuk pada Sitor Situmorang dan sumber-sumber lain, saya akan coba sederhanakan di sini.


Soal Eksistensi Simarata

Laporan hasil interogasi polisi Belanda mengungkap gerakan bawah tanah pembentukan Kesultanan Simarata diinisiasi oleh Kelompok Naimarata. Luther termasuk dalam kelompok itu.


Pertanyaannya, tentu saja, siapa itu Kelompok Simarata dalam masyarakat Batak Toba? Untuk mengenalinya, perlu menelusur ke pangkal silsilah orang (suku) Batak Toba.


Saya coba buat sederhana saja. Siraja Batak, “orang Batak Pertama” yang berdiam di Sianjurmulamula (lembah Limbong-Sagala, kaki barat Gunung Pusukbuhit) “berputera” dua, Tateabulan atau Ilontungon dan Isumbaon.


Dua belahan besar (moety) suku Batak Toba berakar dari sini: Belahan Lontung (keturunan Ilontungon/Tateabulan) dan Belahan Sumba (keturunan Isumbaon).


Belahan Sumba, untuk membicarakannya lebih dulu, adalah keturunan Sorimangaraja, putera Isumbaon, dari tiga “isteri” yaitu Naiambaton (Sorbadijulu), Nairasaon (Sorbadijae) dan Naisuanon (Sorbadibanua).


Persebaran Belahan Sumba itu begini. Keturunan Naiambaton (Simbolon, Munte, Tamba, Saragi) mendiami pulau Samosir bagian utara. Keturunan Nairasaon (Manurung, Sitorus, Sirait, Butarbutar) menduduki daratan Uluan di seberang timur Samosir.


Sedangkan keturunan Naisuanon (Sibagotnipohan, Sipaettua, Silahisabungan, Sirajaoloan, Sirajasumba, Sirajasobu, Naipospos) menduduki wilayah Toba Holbung di selatan Danau Toba dan sebagian besar daratan seberang barat Samosir.


Kiblat politik genealogi Belahan Sumba adalah Bius Baligeraja (Balige), bius utama Sumba di Toba Holbung. Di situ Sorimangaraja, pendeta-raja dari garis Sorimangaraja yang dilanjutkan Sibagotnipohan, duduk memerintah bius. Bius adalah federasi horja, sedangkan horja adalah federasi huta (kuta, kampung).


Sekarang mengenai Belahan Lontung yang agak kompleks. Belahan ini mencakup keturunan Ilontungon (Tateabulan) dari empat “putera”-nya yaitu Sariburaja, Limbongmulana, Sagalaraja, dan Malauraja. Sebenarnya ada “putera” pertama, Raja Biakbiak atau Raja Uti, tapi (konon) “terbang” ke wilayah Barus di barat.


Saya jelaskan Limbongmulana dan Sagalaraja dulu. Dua kelompok ini, menurunkan marga-marga Limbong dan Sagala, tetap mendiami kampung leluhur, Sianjurmulamula. Mewarisi bius pertama, Bius Sianjurmulamula di situ. Bius ini kemudian disebut Bius Limbong-Sagala, di bawah kepemimpinan pendeta-raja Jonggimanaor. Ini dinasti pendeta-raja dari garis marga Limbong.


Malauraja, yang menurunkan marga induk Malau, diusir Sagala dan Limbong dari Sianjurmulamula. Konon karena membela saudaranya Sariburaja yang melakukan inses dengan saudari kembarnya, Boru Pareme. Sejak itu Malau dan marga-marga turunannya bermigrasi ke Samosir utara, bahkan menyeberang ke timur laut, ke wilayah Sidamanik sekarang.


Sariburaja, “putera” kedua, memiliki dua “putera”. Pertama, Siraja Lontung (mengambil nama kakeknya), hasil “inses” dengan Boru Pareme. Kedua, Siraja Borbor, hasil perkawinannya dengan Boru Mangiringlaut, konon putri “mahluk halus”.


Kelompok keturunan Siraja Lontung (Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Siregar, Aritonang) menguasai wilayah Samosir selatan. Ditambah lembah Sabulan dan lembah Muara di seberang barat Danau Toba.


Kelompok Siraja Lontung ini mendirikan bius utama di Urat, Palipi, Samosir selatan, sebagai kiblat politik genealogi seluruh wilayah Siraja Lontung. Pendeta rajanya adalah Ompu Paltiraja, dinasti yang dibangun dari garis marga Sinaga.


Akan halnya Siraja Borbor, saat dia lahir, Sariburaja ayahnya langlang buana ke Barus, konon mencari Siraja Uti (abangnya). Karena itu kelahirannya ditunggui oleh adik-adik bapaknya, Sagalaraja, Limbongmulana dan Malauraja.


Proses kelahiran Borbor yang “tanpa kehadiran ayah” lalu menuntun ibunya dan tiga saudara ayahnya mengikat padan (perjanjian) “Borbor Marsada”. Inti perjanjian itu, Borbor menjadi satu kesatuan dengan Limbong, Sagala, dan Malau.


Berdasar perjanjian itu maka kelompok keturunan Borbor menyatu ke dalam bius Limbong-Sagala. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah marga-marga Pasaribu, Batubara, Parapat,Tarihoran, Matondang, Saruksuk, Sipahutar, Harahap, Tanjung, Pulungan, Lubis, Simargolang dan Rambe.


Seiring tekanan demografis di lembah Limbong-Sagala, keturunan Borbor ini kemudian bermigrasi ke Humbang, Habinsaran hingga Sipirok di selatan. Sebagian lagi, antara lain Pasaribu, bermigrasi ke Barus di barat dan mendirikan “kerajaan” di situ.


Kelompok “Borbor Marsada” itulah yang mengidentifikasi diri bagai Simarata. Nama ini diambil dari “gelar kerajaan” Tuan Sorimangarata, disingkat Naimarata atau Simarata, yang disematkan pada Tateabulan. “Gelar kerajaan” yang satu lagi, yaitu Raja Ilontungon, telah diambil oleh Siraja Lontung, anak pertama Sariburaja.


Penggunaan nama “Simarata” itu bernilai politis juga. Sebab jika menggunakan nama “Borbor Marsada”, maka ada kemungkinan Limbong, Sagala, dan Malau resisten. Karena eksistensi BIus Limbong Sagala seolah terkooptasi Borbor.


Lagi, penggunaan nama Simarata menjadikan kelompok itu setara dengan Siraja Lontung, karena sama-sama merujuk pada leluhur yang satu, Tateabulan.


Menjadi jelas pula bahwa kelompok Simarata tidak mau terkooptasi se ara politik genealogi oleh kelompok Siraja Lontung, keturunan Boru Pareme. Ini terkait dengan sejarah masa lalu yaitu, pertama, pengusiran Sariburaja (ayah Siraja Lontung) oleh Limbong dan Sagala akibat laku insesnya dengan Boru Pareme. 


Lalu, kedua, fakta bahwa Siraja Lontung adalah generasi keempat per silsilah, sedangkan Limbong dan Sagala generasi ketiga. Ketiga, adanya persaingan terselubung antara Siraja Lontung dan Siraja Borbor sebagai dua saudara tiri yang merasa setara.


Alhasil, di balik dua belahan Batak Toba, Lontung (Tateabulan) dan Sumba, sebenarnya ada dua sub-belahan yang bersaing di Belahan Lontung, yaitu sub-belahan Siraja Lontung dan Simarata. 


Siraja Lontung mendirikan bius di Urat, Simarata melanjutkan eksistensi bius Sianjurmulamula atau Limbong Sagala. Keduanya tegak dengan kedaulatan dan kepentingan politik genealogis masing-masing.

Bersambung........

Cerita Tentang Guru Mangaloksa

  Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea    4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....