Pada pembukaan salah satu syair sastra Batak disebutkan:
Tulisan artikel ini sebagian dikutip dari berbagai sumber,bertujuan untuk pembelajaran/pemahaman sejarah batak khususnya untuk keturunan op tuan sariburaja dan generasinya
Selasa, 06 Oktober 2020
BULUNG MOTUNG
Homang dan Gulambak
Homang dan Gulambak adalah dua jenis makhluk “misteri” di tanah Batak.
Homang (Sihomang)
Menurut versi kisah Saribu Raja, ketika melewati suatu hutan rimba belantara (diistilahkan: “tombak na limuton, harangan rimbun rea, parhais-haisan ni babiat, paranggunanggunan ni homang” atau hutan berlumut, belantara lebat, tempat harimau mencari makan, tempat berayun-ayun homang) ia bertemu dan berkelahi dengan Sihomang. Namun akhirnya ia menikah dengan putri Sihomang, seorang wanita cantik berwujud manusia bernama Nai Manggiring Laut. Dari perkawinan ini lahirlah Si Raja Borbor.
Gulambak (Sigulambak)
Menurut cerita orang tua-tua, selain Homang, ada juga makhluk misteri di tanah Batak yang dinamakan Gulambak (Sigulambak). Makhluk ini katanya menyerupai hewan kambing (ada yang bilang seperti kuda) berdiri di atas kedua kakinya dan suka meringkik "tertawa" ketika bertemu manusia.
Makhluk ini “usil” tetapi tidak bermaksud mencelakakan atau melukai manusia. Ia suka mengganggu, menggoda manusia yang berjalan sendirian dengan cara tiba-tiba muncul menyeringai menghadang manusia di jalanan atau menguntit-untit orang dari belakang sambil mencolek-colek "manggedeki" (menggelitiki) manusia yang diganggunya. Kemunculannya di malam hari, terutama saat bulan purnama, di tempat sepi tetapi suka dilalui manusia.
BONANG MANALU & SITIGA BOLIT
| Sitiga Bolit pada Patung Sigale-gale (Foto, 2010) |
Bonang Manalu adalah tiga benang berwarna putih, merah dan hitam yang dijalin atau dipilin menjadi satu kesatuan, sebagai hiasan pada tongkat ukir tunggal panaluan dan juga berfungsi sebagai sarana magis untuk suatu ritual maupun metode pengobatan tradisional Batak. Bonang artinya benang dan manalu (berasal dari kata ma dan tolu) artinya tiga menyatu/dalam satu kesatuan.
Ketiga warna tersebut juga mempunyai makna dan simbolisme khusus menurut kepercayaan religi Batak kuno, yaitu:
- Putih sebagai perlambang kesucian, kebenaran, kejujuran dan ketulusan (sohaliapan, sohapurpuran), juga simbol kosmologi Banua Ginjang (dunia atas)
- Merah sebagai perlambang kekuatan (hagogoon) dan keberanian, simbol Banua Tonga (dunia tengah).
- Hitam sebagai perlambang kerahasiaan (hahomion), kewibawaan dan kepemimpinan, simbol Banua Toru (dunia bawah)
SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA
SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA
![]() |
| Diagram: Manusia Pertama Batak di Banua Ginjang |
GURU PATIMPUS
GURU PATIMPUS
![]() |
| Silsilah Keluarga Guru Patimpus |
Catatan Khusus: 15-05-2013
Sehubungan polemik Guru Patimpus, tulisan "Sinambela" setelah nama Guru Patimpus ini diedit dan kata "Batak" setelah "... kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa.." diganti dengan "Karo."
Informasi mengenai polemik ini juga diuraikan pada: Kota Yang Kehilangan Jejak.
______________________________________
Senin, 05 Oktober 2020
DATU, SIBASO, GURU DAN TUAN
- Pemimpin ritual dan religi Batak.
- Tabib dengan ramuan tradisional yaitu:
atau batang tanaman (ramuan herbal);
- Ahli Nujum, menggunakan parhalaan (kalender Batak), memperkirakan hari baik yang tepat (maniti ari) untuk melakukan sesuatu ulaon seperti pesta; memasuki rumah baru dan sebagainya. Ia juga dapat melakukan prakiraan (ramalan) berdasarkan gejala-gejala alam dan menggunakan media tertentu.
- Penasihat dalam permasalahan hubungan antara anggota masyarakat dalam huta atau antar huta, membentengi secara magis suatu huta atau dalam perang mempunyai aji-ajian sitorban dolok (ilmu meruntuhkan gunung).
Kamis, 01 Oktober 2020
BABI ITU HARAM MENURUT PANDANGAN BATAK TRADISIONAL?
| Pinahan Lobu (Foto, 2010) |
ADAT BATAK DAN KRISTEN (II)
Tradisi ritual ini dirubah menjadi Angkat Sidi (Malua) yang dilaksanakan di Gereja kepada anak Kristen yang telah memasuki usia dewasa dan kematangan secara imani Kristen.
Jika margondang (permainan musik tradisional Batak) dilaksanakan sebagai pemujaan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon pada acara ritual Batak kuno, maka pada Kristen, piano atau organ sebagai music untuk mengiringi lagu pujian kepada Tuhan sebagai bagian dari tata acara ibadah agama.
KARYA TULIS DAN PANDANGAN PENGINJIL TENTANG BATAK
Beberapa pendapat, karya tulis dan pandangan penginjil Kristen tentang Batak, yaitu:
- Tahun 1824, Penginjil Burton dan Ward dari Inggris dengan laporannya, “Report of Journey into the Batak Country in the Inferior of Sumatera, in the Year 1824” dalam “Transactions of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland,” terbit di London tahun 1827. Isinya: gambaran, ciri-ciri dan keadaan kehidupan social, keramahan dan keterbukaan masyarakat Batak, selain itu juga adat istiadat, agama dan tata kehidupan penduduk di daerah Tapanuli sekitar Sibolga, Silindung dan sebagian Hurlang.
- Tahun 1849-1857, Herman Neubronner van der Tuuk (Dr. Van der Tuuk) --oleh orang Batak kuno dipanggil "Pandortuk"-- dari Amsterdam, utusan Dutch Bible Society (Kongsi Bible Netherland) membuka jalan pelayanan zending agama Kristen Protestan kepada suku Batak. Selama delapan tahun Van der Tuuk bersosialisasi dengan masyarakat Batak di Barus, mempelajari tentang Batak. Ia menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak - Belanda yang terbit 1861 beserta cerita-cerita rakyat.
- Johannes Warneck, doctor theologia dari “Rheinischen Missionsgesellschaft” Jerman, pernah bertugas di antaranya di Nainggolan (1893), Balige (1895). Tahun 1905, J. Warneck menyusun kamus Bahasa Batak Toba (Tobabataksch-Deutshes Wortherbuch). Pendapat J. Warneck (1932) tentang upaya inkulturisasi Eropa terhadap adat Batak: “Adat baru itu sekali-kali tidak dapat dibuat, setidak-tidaknya bukan dengan perantaraan orang Eropa, baik ia seorang pegawai pemerintah, maupun seorang utusan Zending. Adat itu harus dengan sendirinya lahir dari perasaan yang paling dalam yang dikandung oleh suku bangsa itu.”
HARAJAON BATAK (KERAJAAN BATAK)
Kerajaaan (Harajaon) Batak berbentuk "state" (negara) dengan struktur pemerintahan dan tata aturan seperti negara-negara modern telah ada, bahkan sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit. Pada masa itu nama kaum penduduknya belum dikenal sebagai "Batak." [1] Harajaon Batak pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Tuan Sori Mangaraja, leluhur Si Raja Batak.
SIPELEBEGU
Sipelebegu, Pelebegu atau Hasipelebeguan berasal dari kata “pele” dan “begu”. Pele artinya memberikan sesaji, sedangkan begu adalah roh. Sipelebegu adalah pelaku kegiatan "pemberian sesaji" kepada roh baik berupa makanan, minuman atau sesuatu benda ke makam-makam, pohon besar, juga ke tempat yang diyakini keramat (sakral) atau angker (seram, menakutkan). Pelebegu atau Mamele Begu = kegiatan pemberian sesaji. Hasipelebeguan adalah hal-hal tentang pemberian sajen atau sesajen (pelean) kepada roh-roh. "Pelean" = pemberian atau sumbangan, berasal dari kata "lean" = beri, berikan, sampaikan.
Agama Batak Kuno disebut "Malim" dan penganutnya "Parmalim," menganut kepercayaan monotheisme percaya dan menyembah Ompu Mulajadi Nabolon, Sang Maha Pencipta sebagai Tuhan Yang Maha Esa.*)
SIBORU DEANG PARUJAR MENAKLUKKAN NAGA PADOHA
MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (VI)
TINGKI NA LIMA VERSI BATAK
TINGKI NA LIMA
![]() |
| Kala Senja (Botari) di Dataran Tinggi Toba (Foto, 2011) |
hari yang akan datang.
2. Pangului adalah antara pukul 07.00 lewat s/d pukul 11.00 WIB (pagi
menjelang siang)
3. Hos ni Ari adalah tengah hari ketika matahari berada pada titik kulminasi,
antara pukul 11.00 lewat s/d pukul 13.00 WIB (siang hari). Lebih spesifik:
marhira hos = pukul sekitar pukul 11.00 WIB, jika dikatakan hos ari
atau tonga ari = tengah hari pada pukul 12.00 WIB.
4. Guling ni Ari,
Secara umum sebutan waktu antara pukul 13.00 (lewat tengah hari) s/d pukul
17.00 WIB (sore hari), dan secara khusus: guling ari: matahari mulai bergulir
(condong) ke Barat, pukul 13.00 s/d 15.00 WIB. Jika dikatakan guling dao:
(bergulir jauh) mulai pukul 15.00 lewat sampai 17.00 WIB
5. Bot ni Ari (Botari) adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00
(petang hari). Asal kata, bot = hampir gelap, menjelang malam.
Tingki na lima atau pembagian hari dalam lima kurun waktu ini disebut juga parmamis.
Cerita Tentang Guru Mangaloksa
Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea 4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....
-
S ejarah Pasaribu ABSTRAK PENDAHULUAN Kalau kepada orang yang bermarga Pasaribu di ajukan pertanyaan ini : Siapa orang yang bernama Pasa...
-
LOBU SARUKSUK LOBU SARUKSUK Lobu Saruksuk, i ma sada huta na pinungka ni Ompu Raja Saruksuk, di daearah Sipulak, Kec. Pagaran, Kab. Tapanuli...


