Selasa, 06 Oktober 2020

BULUNG MOTUNG

  Pada pembukaan salah satu syair sastra Batak disebutkan:


         Bulung motung si dua rupa, na bontar nang rata-rata
         Terjemahannya: Daun Motung berwajah dua, yang putih dan yang hijau.

Motung atau gumbot /gubbot/ adalah sejenis tanaman pohon kayu hutan yang banyak terdapat di dataran tinggi tanah Batak.  Sibulung Motung adalah daun pohon tanaman tersebut yang mempunyai keunikan yakni terdiri dari dua warna.  Permukaan daunnya hijau sedangkan bagian bawahnya putih bersih. Ukurannya seperti daun jati bisa mencapai panjang satu hasta dan lebar satu setengah jengkal orang dewasa  

Bulung motung pada masyarakat tradisional Batak dipergunakan untuk pembungkus bahan makanan, seperti halnya daun pisang atau daun jati.  Daun ini  juga difungsikan sebagai piring   tempat menghidangkan nasi dan lauk, sehingga dalam bahasa sastra Batak atau bahasa andung-andung disebut juga pinggan puti harangan artinya piring putih hutan (pinggan = piring; puti = putih dan harangan = hutan/rimba belantara). 

Homang dan Gulambak

  Homang dan Gulambak adalah dua jenis makhluk “misteri” di tanah Batak.  


Homang (Sihomang)


Sejenis makhluk yang wujudnya menyerupai manusia, tetapi berwajah menyeramkan lebih mirip ke "orang utan."  Berbulu dan ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dari pria dewasa.  Konon telapak kaki dan tangannya posisinya terbalik, jari jemarinya menghadap ke belakang. 

Makhluk ini suka menyesatkan seseorang ke suatu tempat sunyi atau ke dalam hutan belantara bahkan menculik (biasanya anak gadis) tetapi setelah beberapa hari mengembalikan ke tempat semula berada. 

Makhluk ini beraksi di malam hari di jalanan kampung yang gelap atau di tengah hutan rimba belantara yang jarang atau tidak pernah dilalui manusia.

Menurut versi kisah Saribu Raja, ketika melewati suatu hutan rimba belantara (diistilahkan: “tombak na limuton, harangan rimbun rea, parhais-haisan ni babiat, paranggunanggunan ni homang” atau hutan berlumut, belantara lebat, tempat harimau mencari makan, tempat berayun-ayun homangia bertemu dan berkelahi dengan Sihomang. Namun akhirnya ia menikah dengan putri Sihomang, seorang wanita cantik berwujud manusia bernama Nai Manggiring Laut.  Dari perkawinan ini lahirlah Si Raja Borbor.

Gulambak (Sigulambak)

Menurut cerita orang tua-tua, selain Homang, ada juga makhluk misteri di tanah Batak yang dinamakan Gulambak (Sigulambak).  Makhluk ini katanya menyerupai hewan kambing (ada yang bilang seperti kuda) berdiri di atas kedua kakinya dan suka meringkik "tertawa" ketika bertemu manusia. 

Makhluk ini “usil” tetapi tidak bermaksud mencelakakan atau melukai manusia. Ia suka mengganggu, menggoda manusia yang berjalan sendirian dengan cara tiba-tiba muncul menyeringai menghadang manusia di jalanan atau menguntit-untit orang dari belakang sambil mencolek-colek "manggedeki" (menggelitiki) manusia yang diganggunya.  Kemunculannya di malam hari, terutama saat bulan purnama, di tempat sepi tetapi suka dilalui manusia.

BONANG MANALU & SITIGA BOLIT


Sitiga Bolit pada Patung Sigale-gale (Foto, 2010)

Bonang Manalu adalah tiga 
benang berwarna putih, merah dan hitam yang dijalin atau dipilin menjadi satu kesatuan, sebagai hiasan pada tongkat ukir tunggal panaluan dan  juga berfungsi sebagai sarana magis untuk suatu ritual maupun metode pengobatan tradisional Batak.   Bonang artinya benang dan manalu (berasal dari kata ma dan tolu) artinya tiga menyatu/dalam satu kesatuan.

Sitiga Bolit adalah tiga benang dijalin secara teratur menjadi satu (bonang manalu) dengan ukuran tertentu digunakan untuk ikat yang melilit di kepala, seperti bentuk serban.  Tiga (sitiga) artinya tiga, dan bolit artinya belit, belitan, pilinan, atau jalinan.

Warna putih, merah dan hitam merupakan warna utama dan dominan bagi Suku Batak dalam berbagai corak ragam hias, seperti pada warna gorga di ruma Batak (ukiran di rumah adat Batak) dan perangkat musik gondang.

Ketiga warna tersebut juga mempunyai makna dan simbolisme khusus menurut kepercayaan religi Batak kuno, yaitu:
  • Putih   sebagai perlambang kesucian, kebenaran, kejujuran dan ketulusan (sohaliapan, sohapurpuran),  juga simbol kosmologi Banua Ginjang (dunia atas)
  • Merah sebagai perlambang kekuatan (hagogoon) dan keberanian, simbol Banua Tonga (dunia tengah).
  • Hitam  sebagai perlambang kerahasiaan (hahomion), kewibawaan  dan kepemimpinan, simbol Banua Toru (dunia bawah) 

 

SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA

 SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA

Diagram: Manusia Pertama Batak di Banua Ginjang

Suku Batak adalah keturunan Dewata, demikian menurut turi-turian Batak. Bermula dari mitologi kelahiran manusia pertama (Batak) di Banua Ginjang, atas kuasa Sang Maha Pencipta, Ompu Mulajadi Na Bolon, yakni, laki-laki dari dari 3 (tiga) butir telur dan perempuan dari 3 (tiga) ruas bambu yang diasuh oleh Manuk Patiaraja (Hulambujati) dan Manuk Mandoangmandoing. Di beberapa literatur, tidak dijelaskan adanya manuk Mandoangmandoing hanya Manuk Patiaraja (Hulambujati).

Manusia pertama ini tinggal di Banua Ginjang (surgaloka), dan mereka adalah Debata (Dewata) [1],yaitu: Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan. Ompu Mulajadi Na Bolon kemudian menjadikan pasangan hidup dan pendamping yang sepadan dari ruas bambu, yakni S. Parmeme, S. Parorot dan S. Panuturi.  Dari pernikahan tersebut, lahirlah keturunan putra dan putri sebagaimana diuraikan pada diagram.

Putra O.T. Soripada yaitu Raja Indapati alias Raja Endaenda menikah dengan putri O.T. Batara Guru, Siboru Deang Parujar, lahirlah Raja Ihat Manisia [2a].  Generasi  berikutnya berturut-turut adalah Raja Miok-miok - Eng Banua - Eng Domia (Raja Bonang-bonang) - Raja Tantan Debata dan Si Raja Batak (lihat dan klik Silsilah Si Raja Batak).

Pada awalnya Siboru Deang Parujar tidak bersedia dinikahkan dengan Si Raja Enda-enda.  Pengingkaran akan ini, maka manusia tidak lagi hidup bersama Dewata di Banua Ginjang tetapi tinggal di Banua Tonga. Suratan kehidupan, dan "sudah berjodoh" akhirnya Raja Endaenda menikah dengan Siboru Deang Parujar.[2b]

Tentu saja bahwa "Suku Batak Keturunan Dewata" tidak diartikan secara harfiah begitu saja, dan bukan sikap superioritas Batak atas kesukuannya. Ada nilai-nilai dalam bentuk perandaian (partudosan) seperti telah diuraikan pada makna di balik Mitologi Batak (klik di sini). Turi-turian tersebut merupakan bentuk pesan moral, nasihat dan didikan kepada keturunan Batak dalam menghormati, menghargai leluhur bersikap terhadap orang tua.

Kini dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, dan juga dalam syair lagu Batak masih terdapat istilah : "orang tua (Ayah dan Ibu atau Daamang dohot Dainang) adalah debata na ni ida atau debata na tarida (dewata yang dilihat, dewata yang tampak), atau "daamang da inang i do debata na ni ida".

Dengan demikian, Debata juga dimaknai sebagai panggilan atau gelar penghormatan oleh Suku Batak disamping Ompu atau Ompung.[3]

_______________

GURU PATIMPUS

GURU PATIMPUS


Silsilah Keluarga Guru Patimpus 

Guru Patimpus, adalah cucu dari Sisingamangaraja I, Raja Manghuntal dari Bakara. Menurut Riwayat Hamparan Perak sebagai berikut: "Alkisah kata sahibul hikayat suatu cerita dahulu kala seorang Raja bernama Singa Mahraja memerintah di negeri Bakerah." (Singa Mahraja dimaksud adalah Sisingamangaraja dan negeri Bakerah adalah Negeri Bakara).

Sisingamangaraja I mempunyai dua putra, Tuan Mandolang, putra I, terpilih menjadi Sisingamangaraja II menggantikan ayahnya.  Putra kedua, Tuan Si Raja Hita perpamitan dan meminta doa restu kepada ayahnya Sisingamangaraja I untuk pergi ke negeri lain,  bersama pengikutnya bermaksud untuk mendirikan kerajaaan baru. Bertahun ia berjalan sampai di Gunung Si Bayak (Gunung Sibayak), dataran tinggi Karo, dan dibuatlah nama kampung itu Karo Sepuluh Dua Kuta.

Tuan Si Raja Hita mendirikan beberapa kerajaan untuk anaknya Pakan dan Balige, tetapi Timpus putra sulungnya tidak bersedia menjadi Raja dan lebih suka berpetualang mencari dan mengadu ilmu, ia kemudian dipanggil orang Guru Patimpus.*

Guru Patimpus menikah dengan putri raja Ketusing. Dari pernikahan ini lahir enam putra, dan satu putri (putri ini dinikahkan dengan Raja Tangging).  Setiap lahir putra dibukanya kampung yang diberi nama sesuai nama anaknya yaitu: Benara, Kuluhu, Batu, Salahan, Paropa dan Liang Tanah.

Guru Patimpus mendengar bahwa di Karo terjadi huru-hara. Dia datang ke Karo dan tiba di Ajei Jahei. Dia mendamaikan raja-raja yang bertikai, dan kemudian tinggal dan menikah di sana, lahirlah putranya pertama, Si Gelit, dan kedua Si Jahei yang menjadi raja di Ajei Jahei.

Guru Patimpus menikah lagi dengan putri Kepala Pulau Berayan bermarga Tarigan, dan setelah itu ia membuka dan mendirikan kota Medan sekitar tahun 1590, sebagai pusat pemerintahan kerajaannya dan dilanjutkan dengan putranya Hafiz Muda.

Demikian riwayat Guru Patimpus dari sumber Riwayat Hamparan Perak, yang disalin dengan Bahasa Melayu dari kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa Karo pada tahun 1274 H.

Catatan Khusus: 15-05-2013
Sehubungan polemik Guru Patimpus, tulisan "Sinambela" setelah nama Guru Patimpus ini diedit dan kata "Batak" setelah "... kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa.." diganti dengan "Karo." 
Informasi mengenai polemik ini juga diuraikan pada: Kota Yang Kehilangan Jejak.

______________________________________ 
* = Seseorang yang memiliki tingkatan keahlian/ ilmu di atas Datu disebut Guru.  Guru adalah gelar kehormatan karena para datu lain mengakui keunggulannya bahkan meminta petunjuk atau berguru kepadanya selaku suhu/mahaguru atau datunya Datu.  Lebih detail Klik di sini: "Datu, Sibaso, Guru dan Tuan" 

Senin, 05 Oktober 2020

DATU, SIBASO, GURU DAN TUAN

Datu (dukun) adalah seseorang yang mempunyai kemampuan di luar daya normal manusia awam (kemampuan supranatural/paranormal). Dalam struktur masyarakat Batak tradisional, Datu mendapat posisi terhormat karena kompetensinya di bidang membaca dan menulis aksara Batak, dan kemampuan lain seperti pengobatan, ilmu nujum, parhalaan (penanggalan) untuk membaca hari baik dan buruk.  Selain itu seorang Datu memegang fungsi dan peran penting  “sesuai jurusan kualifikasi keilmuaannya” dalam kelompok masyarakat territorial huta, dan berasal dari garis keturunan marga yang menempati huta.  Setiap marga dalam satu huta minimal mempunyai seorang Datu

Seorang Datu tidak serba menguasai semua bidang-bidang hadatuon (perdukunan), tetapi biasanya terdapat satu keahlian khusus yang menonjol di bidangnya. Misalnya Datu Partaoar, dengan ramuan-ramuannya lebih ahli di bidang obat penyembuh dan penawar racunDatu Pangatiha Pandang Torus mempunyai kemampuan sebagai peramal, dan Datu Panuju keahliannya untuk mengatur cuaca, seperti mendatangkan hujan atau menangkal hujan.

Fungsi dan peran Datu di dalam masyarakat Batak kuno, sebagai:
  1. Pemimpin ritual dan religi Batak.
  2. Tabib dengan ramuan tradisional yaitu: 
          - Tambar = obat tradisional dari racikan dedaunan, akar-akar 
                              atau batang tanaman (ramuan herbal);
          - Taoar = berupa ramuan dari racikan berbagai tambar dan bahan-bahan lain 
                           yang berkhasiat untuk obat penawar racun, guna-guna atau 
                           obat penyembuh penyakit.
  1. Ahli Nujum, menggunakan parhalaan (kalender Batak), memperkirakan hari baik yang tepat (maniti ari) untuk melakukan sesuatu ulaon seperti pesta; memasuki rumah baru dan sebagainya. Ia juga dapat melakukan prakiraan (ramalan) berdasarkan gejala-gejala alam dan menggunakan media tertentu.
  2. Penasihat dalam permasalahan hubungan antara anggota masyarakat dalam huta atau antar huta,  membentengi secara magis suatu huta atau dalam perang mempunyai aji-ajian sitorban dolok (ilmu meruntuhkan gunung).
Datu umumnya pria, datu perempuan disebut Sibaso.  Sibaso dalam komunitas huta lebih berperan sebagai “dukun persalinan” yang ahli dibidang kebidanan, penyakit wanita dan ramuan-ramuan obat tradisional (tambar). Sibaso perannya tidak sebesar Datu. Pada upacara ritual tertentu Sibaso berfungsi mendampingi Datu (pria) sebagai medium dalam “kesurupan roh.”

Seseorang yang memiliki tingkatan keahlian di atas Datu disebut GuruGuru adalah gelar kehormatan yang diberikan masyarakatnya karena keunggulannya dan reputasinya yang diakui para datu lainnya. Bahkan datu dari huta lain meminta petunjuk atau berguru kepadanya, sehingga ia merupakan suhu atau mahaguru datu alias “datunya Datu.

Raja di huta tanah Batak umumnya memiliki sahala hadatuonatau kemampuan seperti datu.*).  Seorang Raja yang memegang posisi sebagai pemimpin tertinggi di kelompoknya tetapi juga disegani, dihormati dan diakui sebagai sesepuh oleh pemimpin kelompok lain diluar marga atau hutanya, disebut Tuan (yang terhormat). Tuan tingkatannya lebih tinggi di atas Guru.

Sisingamangaraja termasuk yang bergelar Tuan, atau lengkapnya Ompu Tuan Sisingamangaraja. Bandingakan juga dengan Guru Tatea Bulan (putra pertama Si Raja Batak) dan Tuan Sori Mangaraja (cucu Si Raja Batak).**)

Kamis, 01 Oktober 2020

BABI ITU HARAM MENURUT PANDANGAN BATAK TRADISIONAL?


Pinahan Lobu (Foto, 2010)
Babi bahasa Bataknya adalah babi, pinahan lobu, parmiak-miak/namarmiak-miak (gemuk, berlemak), bahasa yang diperhalus "horbo na metmet" (kerbau kecil)

Konon –masih perlu pembuktian lebih lanjut dari catatan sejarah-, jenis hewan ini sering dibawa oleh pelaut bangsa Eropa, dan secara besar-besaran didatangkan pada akhir tahun 1800 an (awal tahun 1900 an) ke tanah Batak untuk diternakkan sebagai sumber kebutuhan konsumsi “daging” kaum penjajah/si mata putih (sibontar mata) dan rakyat jelata. Ternak ini memang murah, mudah dan cepat berkembang biak. Menurut orang Eropa masyarakat perlu menikmati daging sebagai lauk sehari-hari, karena sebelumnya orang Batak makan daging hanya saat pesta, atau menjamu tamu yang dihormati.

Sebaliknya pemimpin dan pemangku adat masyarakat Batak Tradisional dan kaum Malim (Parmalim) menyatakan bahwa daging babi itu “rotak” dan dikategorikan “subang” untuk dimakan karena akan membuat tubuh menjadi “ramun” (“ramun” artinya tercemar, subang artinya haram, pantang, terlarang atau tidak boleh dikonsumsi, sedangkan rotak artinya kotor). 

Pada era Batak tradisional daging untuk keperluan adat dan konsumsi adalah sigagat duhut (hewan atau ternak pemakan rumput yaitu: kerbau=horbo, sapi=lombu, kuda=hoda, kambing=hambing, domba=dorbia.dan ayam=manuk atau bebek=bibi). Sedangkan dewasa ini di kalangan Batak, “parmiak-miak" merupakan salah satu sajian adat Batak, dan untuk kaum parsubang pada pesta tersebut disediakan makanan lain yang tidak “dais” (terkena, tersentuh) hidangan “namarmiak-miak.”

ADAT BATAK DAN KRISTEN (II)

Adat Batak kuno mengalami perubahan dan adaptasi sejak agama Kristen masuk ke Tanah Batak sekitar 1860-an.  Beberapa di antaranya:

1. Martutu Aek (Pembabtisan)
Martutu Aek adalah ritual kepada seorang anak yang baru lahir, dan dibawa ke homban (telaga dari mata air di ladang) untuk dimandikan. Datu  (dukun) menciduk air dan memandikan bayi di tempat ini, selanjutnya prosesi pemberian nama.
Adat Martutu Aek ini kemudian menjadi Baptisan Kristen (Tardidi atau Pandidion) yang dilaksanakan di Gereja oleh Pendeta dengan memercikkan air kepada si bayi atau anak.

2. Mangalontik Ipon (Meratakan Gigi)
Ritual mangalontik ipon sebagai tanda seorang anak telah memasuki kedewasaan dan meninggalkan masa kanak-kanaknya. 
Tradisi ritual ini dirubah menjadi Angkat Sidi (Malua) yang dilaksanakan di Gereja kepada anak Kristen yang telah memasuki usia dewasa dan kematangan secara imani Kristen.

3. Margondang (Bergendang)

Jika margondang (permainan musik tradisional Batak) dilaksanakan sebagai pemujaan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon pada acara ritual Batak kuno, maka pada Kristen, piano atau organ sebagai music untuk mengiringi lagu pujian kepada Tuhan sebagai bagian dari tata acara ibadah agama. 

KARYA TULIS DAN PANDANGAN PENGINJIL TENTANG BATAK

 Beberapa pendapat, karya tulis dan pandangan penginjil Kristen tentang Batak, yaitu:

  1. Tahun 1824, Penginjil Burton dan Ward dari Inggris dengan laporannya, “Report of Journey into the Batak Country in the Inferior of Sumatera, in the Year 1824” dalam “Transactions of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland,” terbit di London tahun 1827.  Isinya: gambaran, ciri-ciri dan keadaan kehidupan social, keramahan dan keterbukaan masyarakat Batak, selain itu juga adat istiadat, agama dan tata kehidupan penduduk di daerah Tapanuli sekitar Sibolga, Silindung dan sebagian Hurlang.
  2. Tahun 1849-1857, Herman Neubronner van der Tuuk (Dr. Van der Tuuk) --oleh orang Batak kuno dipanggil "Pandortuk"-- dari Amsterdam, utusan Dutch Bible Society (Kongsi Bible Netherland) membuka jalan pelayanan zending agama Kristen Protestan kepada suku Batak.  Selama delapan tahun Van der Tuuk bersosialisasi dengan masyarakat Batak di Barus, mempelajari tentang Batak. Ia menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak - Belanda yang terbit 1861 beserta cerita-cerita rakyat.
  3. Johannes Warneck, doctor theologia dari “Rheinischen Missionsgesellschaft” Jerman,  pernah bertugas di antaranya di Nainggolan (1893), Balige (1895). Tahun 1905, J. Warneck menyusun kamus Bahasa Batak Toba (Tobabataksch-Deutshes Wortherbuch).  Pendapat J. Warneck (1932) tentang upaya inkulturisasi Eropa terhadap adat Batak“Adat baru itu sekali-kali tidak dapat dibuat, setidak-tidaknya bukan dengan perantaraan orang Eropa, baik ia seorang pegawai pemerintah, maupun seorang utusan Zending.  Adat itu harus dengan sendirinya lahir dari perasaan yang paling dalam yang dikandung oleh suku bangsa itu.”   

HARAJAON BATAK (KERAJAAN BATAK)

 Kerajaaan (Harajaon) Batak berbentuk "state" (negara) dengan struktur pemerintahan dan tata aturan seperti negara-negara modern telah ada, bahkan sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit.  Pada masa itu nama kaum penduduknya belum dikenal sebagai "Batak." [1]  Harajaon Batak pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Tuan Sori Mangaraja, leluhur Si Raja Batak.  


Dari penelusuran sejarah dan beberapa sumber informasi, di mana letak dan tahun berdirinya kerajaan Batak pertama ini masih menjadi polemik.  Apakah di sepanjang Pantai Timur atau Pantai Barat Sumatera bagian Utara, atau di wilayah perbatasan Aceh (sekarang), atau di suatu tempat di daratan Asia, seputar tahun kejayaan kerajaan nusantara, Sriwijaya.   Kerajaan Batak ini tidak bertahan akibat suatu konflik dan politik pada masanya. Keturunannya dan para pengikutnya memilih hijrah ke daerah baru,  Pusuk Buhit.  Wilayah ini sangat strategis, berada di pegunungan yang dari puncaknya dapat mengawasi keadaan sekitar, tempatnya subur dan banyak sumber air. 

Pemulihan kerajaan memerlukan waktu, Si Raja Batak telah uzur, harus menyerahkan amanah kepada generasi berikut.  Amanah kerajaan diberikan kepada Raja Isumbaon (Raja yang disembah), bukan kepada putra pertama Guru Tatea Bulan.  Hal ini tampak pada pembagian warisan, yaitu pusaka Pustaha Tumbaga Holing (Kitab Tumbaga Holing) yang berisi berisi tentang: patik dohot uhum habatahonharajaon, partiga-tigaan (titah dan hukum Batak, aturan kerajaan dan tata perniagaan) [2] kepada Raja Isumbaon  sementara Guru Tatea Bulan mewarisi  Pustaha Laklak, yang berisi tentang pernujuman, ilmu perdukunan dan bela diri (parhalaan, hadatuon, parmonsakan).  

Guru Tatea Bulan sebenarnya berharap dapat memegang amanah kerajaan, tetapi persoalan internal putra-putrinya sangat pelik.  Putra pertamanya, Raja Gumeleng-geleng lahir, tidak sempurna wujud fisiknya, dan terkucil dari saudara-saudanya.  Atas permintaannya ia diantar oleh ibunya ke suatu tempat di lereng Pusuk Buhit.  Harapan kemudian jatuh kepada putra kedua yang diberi nama Sariburaja. Nama "Sariburaja" boleh jadi berasal dari Sriwijaya, dalam bahasa Sanskrit yaitu “Shri Vijaya atau Shri Bhoja yaitu Srivijaya.”  Artinya: Shri = bersinar atau berkilau, Vijaya = kemenangan atau keunggulan. Namun Saribujaya akhirnya terusir dari keluarga karena perbuatan incest dengan saudarinya  Siboru Pareme [3].

Raja Isumbaon melanjutkan proses restrukturisasi kerajaan, dan dilanjutkan oleh putranya  yang bernama Tuan Sori Mangaraja. Nama Sori Mangaraja ini seperti nama leluhurnya, berasal atau identik dengan Sri Maharaja (Sri Maharaj). Sampai di sini rangkaian tugas membangun dinasti kerajaaan Batak "terputus."   Justru dari generasi Guru Tatea Bulan, Raja Uti  "mendapatkan wahyu dan kesempurnaan.”  Ia memilih pergi ke wilayah ujung Aceh --atau Manduamas, Barus atau pulau di seberang Barus--. dan membangun kerajaan. Kerajaan ini berjaya dipimpin oleh Raja Uti Mutia Raja I sampai dengan VII. 

Dinasti Kerajaan Batak di bawah Raja Uti, beralih kepada Sisingamangaraja.  Sisingamangaraja I (Raja Manghuntal, --sumber lain menyebut Raja Mangkuta--) membangun Kerajaan Batak (Harajaon Batak) berkedudukan di Bakara, berlanjut hingga Sisingamangaraja XII, dengan sendi-sendi tata aturan "negara" Kerajaan

SIPELEBEGU

Sipelebegu, Pelebegu atau Hasipelebeguan berasal dari kata “pele” dan “begu”Pele artinya memberikan sesaji, sedangkan begu adalah roh.  Sipelebegu adalah pelaku kegiatan "pemberian sesaji"  kepada roh baik berupa  makanan, minuman atau sesuatu benda ke makam-makam, pohon besar, juga ke tempat yang diyakini keramat (sakral) atau angker (seram, menakutkan). Pelebegu atau Mamele Begu =  kegiatan pemberian  sesaji. Hasipelebeguan adalah hal-hal tentang pemberian sajen atau sesajen (pelean) kepada roh-roh. "Pelean" pemberian atau sumbangan, berasal dari kata "lean" = beri, berikan, sampaikan. 


Sipelebegu, Pelbegu, Hasipelebeguan bukan sebagai suatu aliran kepercayaan Batak, dan bukan sebagai agama di kalangan Suku Batak kuno. Suku Batak kuno sering dikatakan sebagai Sipelebegu karena kegiatan pemberian persembahan berupa sesaji yang ditujukan kepada roh-roh dalam suatu ritual.
   
Agama Batak Kuno disebut "Malim" dan penganutnya "Parmalim," menganut kepercayaan monotheisme percaya dan menyembah Ompu Mulajadi Nabolon, Sang Maha Pencipta sebagai Tuhan Yang Maha Esa.*)   
__________________

SIBORU DEANG PARUJAR MENAKLUKKAN NAGA PADOHA

MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (VI) 


Siboru Deang Parujar mulai khawatir bahwa Naga Padoha tidak bisa dirantai. Ia tetap berusaha, kali ini ia memohon kembali kepada Ompu Mulajadi Na Bolon, dan melalui Leang-leang Mandi diserahkan  rantai baja yang baru dan terkuat dari segala rantai yang pernah ada dan sebuah pasungan disertai tiga macam senjata pusaka.  Senjata pusaka berupa: pertama, kerudung pelindung panas; kedua, tongkat dan ketiga pedang. 

Siboru Deang Parujar segera menemui Naga Padoha “Jika waktu itu kamu sendiri yang merantai, sekarang akulah,” kata Siboru Deang Parujar beralasan sambil menunjukkan pasungan dan rantai yang baru.  Naga Padoha nyengir dan menurut, "Perkara kecillah itu," ujarnya dalam hati. Tanpa membuang waktu Siboru Deang Parujar memasung dan merantai Naga Padoha.  Ujung rantai pengikat leher ditambatkan di tongkat Tungkotungko Sipitu Tanduk.

“Sekarang aku sudah terikat lagi,” kata Naga Padoha sambil terkekeh, “Aku menagih janjimu!” Ia yakin sekejap akan ditunjukkannya keperkasaannya kembali di hadapan pujaan hati.

“Sabar dulu, ya,” bujuk Siboru Deang Parujar, “Berpalinglah!”.  Naga Padoha berpaling, dan segera Siboru Deang Parujar menghujamkan pedang dari Ompu Mulajadi Na Bolon ke tubuh Naga Padoha.  Mata pedang menancap dalam ditubuh Naga Padoha hingga tinggal gagang pedangnya (suhul) yang menyembul. 

Naga Padoha berteriak kesakitan, “Amangoi…!!!, Inangoi….!!! Hansit nai, puang!!!!”  Ia mencoba meronta tetapi sekujur tubuhnya kaku dan lemah, sukar digerakkan.  “Oh, apa yang telah kau lakukan padaku, Deang Parujar,” rintihnya kepayahan. Nafasnya terengah-engah.

“Sudah menjadi bagianmu!” seru Siboru Deang Parujar.  Ia lalu meminta tujuh kepal tanah dari Banua Ginjang menimbun Naga Padoha.  Naga Padoha secara perlahan tapi pasti semakin terkubur dan tenggelam dalam himpitan tanah di Banua Toru.  Sebelum betul-betul terkubur habis, terdengar teriakan Naga Padoha terakhir kali, “Aku akan membalas perbuatanmu. Aku akan menghancurkan daratanmu...!”

Naga Padoha sudah ditaklukkan tetapi tidak mati, ia terbenam, dan tempatnya inilah Banua Toru.  Sekali-kali ia dapat menggerakkan ekornya atau badannya kaku terhimpit dan terpasung.  Gerakan Naga Padoha inilah yang menyebabkan gempa bumi (lalo) di Banua Tonga.[*]  Suatu saat apabila Naga Padoha berjaya melepaskan diri, terjadilah bencana yang dahsyat di atas bumi.  Peristiwa itulah sebagai akhir jaman, kehancuran Banua Tonga.


[*] Jika terjadi gempa, Suku Batak Kuno akan meneriakkan, “Sahul… sahul, sahul…”.  Sahul artinya gagang pedang, untuk mengingatkan pedang yang ditusukkan Siboru Deang Parujar agar Naga Padoha  akan berhenti bergerak.

TINGKI NA LIMA VERSI BATAK

 

TINGKI NA LIMA

Kala Senja (Botari) di Dataran Tinggi Toba (Foto, 2011)
Tingki na lima (dibaca: tikki na lima) atau "waktu nan lima" adalah pembagian waktu terang dalam sehari mulai dari torang ari (hari terang), pukul 05.00 WIB ke binsar mataniari  (matahari bersinar) sampai dengan bot ari (menjelang gelap) ke mate mata ni ari (matahari terbenam) , yaitu: 

1. Sogot ni Ari adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 WIB (pagi hari). 
    Asal kata : sogot = pagi. Sogot juga bisa berarti  besok (marsogot) atau 
    hari yang akan datang.
2. Pangului  adalah antara pukul 07.00 lewat s/d pukul 11.00 WIB (pagi 

    menjelang siang)
3. Hos ni Ari  adalah tengah hari ketika matahari berada pada titik kulminasi, 
    antara pukul 11.00 lewat s/d pukul 13.00 WIB (siang hari). Lebih spesifik:
    marhira hos = pukul sekitar pukul 11.00 WIB, jika dikatakan hos ari 
    atau tonga ari = tengah hari pada pukul 12.00 WIB.
4. Guling ni Ari, 
   Secara umum sebutan waktu antara pukul 13.00 (lewat tengah hari) s/d pukul 
   17.00 WIB (sore hari), dan secara khusus: guling ari: matahari mulai bergulir 
   (condong) ke Barat, pukul 13.00 s/d 15.00 WIB.  Jika dikatakan guling dao: 
   (bergulir jauh) mulai pukul 15.00 lewat sampai 17.00 WIB    
5. Bot ni Ari (Botari) adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 
   (petang hari). Asal kata, bot = hampir gelap, menjelang malam.


Tingki na lima atau pembagian hari dalam lima kurun waktu ini disebut juga parmamis.

Cerita Tentang Guru Mangaloksa

  Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea    4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....