| Pinahan Lobu (Foto, 2010) |
Tulisan artikel ini sebagian dikutip dari berbagai sumber,bertujuan untuk pembelajaran/pemahaman sejarah batak khususnya untuk keturunan op tuan sariburaja dan generasinya
Kamis, 01 Oktober 2020
BABI ITU HARAM MENURUT PANDANGAN BATAK TRADISIONAL?
ADAT BATAK DAN KRISTEN (II)
Tradisi ritual ini dirubah menjadi Angkat Sidi (Malua) yang dilaksanakan di Gereja kepada anak Kristen yang telah memasuki usia dewasa dan kematangan secara imani Kristen.
Jika margondang (permainan musik tradisional Batak) dilaksanakan sebagai pemujaan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon pada acara ritual Batak kuno, maka pada Kristen, piano atau organ sebagai music untuk mengiringi lagu pujian kepada Tuhan sebagai bagian dari tata acara ibadah agama.
KARYA TULIS DAN PANDANGAN PENGINJIL TENTANG BATAK
Beberapa pendapat, karya tulis dan pandangan penginjil Kristen tentang Batak, yaitu:
- Tahun 1824, Penginjil Burton dan Ward dari Inggris dengan laporannya, “Report of Journey into the Batak Country in the Inferior of Sumatera, in the Year 1824” dalam “Transactions of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland,” terbit di London tahun 1827. Isinya: gambaran, ciri-ciri dan keadaan kehidupan social, keramahan dan keterbukaan masyarakat Batak, selain itu juga adat istiadat, agama dan tata kehidupan penduduk di daerah Tapanuli sekitar Sibolga, Silindung dan sebagian Hurlang.
- Tahun 1849-1857, Herman Neubronner van der Tuuk (Dr. Van der Tuuk) --oleh orang Batak kuno dipanggil "Pandortuk"-- dari Amsterdam, utusan Dutch Bible Society (Kongsi Bible Netherland) membuka jalan pelayanan zending agama Kristen Protestan kepada suku Batak. Selama delapan tahun Van der Tuuk bersosialisasi dengan masyarakat Batak di Barus, mempelajari tentang Batak. Ia menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak - Belanda yang terbit 1861 beserta cerita-cerita rakyat.
- Johannes Warneck, doctor theologia dari “Rheinischen Missionsgesellschaft” Jerman, pernah bertugas di antaranya di Nainggolan (1893), Balige (1895). Tahun 1905, J. Warneck menyusun kamus Bahasa Batak Toba (Tobabataksch-Deutshes Wortherbuch). Pendapat J. Warneck (1932) tentang upaya inkulturisasi Eropa terhadap adat Batak: “Adat baru itu sekali-kali tidak dapat dibuat, setidak-tidaknya bukan dengan perantaraan orang Eropa, baik ia seorang pegawai pemerintah, maupun seorang utusan Zending. Adat itu harus dengan sendirinya lahir dari perasaan yang paling dalam yang dikandung oleh suku bangsa itu.”
HARAJAON BATAK (KERAJAAN BATAK)
Kerajaaan (Harajaon) Batak berbentuk "state" (negara) dengan struktur pemerintahan dan tata aturan seperti negara-negara modern telah ada, bahkan sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit. Pada masa itu nama kaum penduduknya belum dikenal sebagai "Batak." [1] Harajaon Batak pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Tuan Sori Mangaraja, leluhur Si Raja Batak.
SIPELEBEGU
Sipelebegu, Pelebegu atau Hasipelebeguan berasal dari kata “pele” dan “begu”. Pele artinya memberikan sesaji, sedangkan begu adalah roh. Sipelebegu adalah pelaku kegiatan "pemberian sesaji" kepada roh baik berupa makanan, minuman atau sesuatu benda ke makam-makam, pohon besar, juga ke tempat yang diyakini keramat (sakral) atau angker (seram, menakutkan). Pelebegu atau Mamele Begu = kegiatan pemberian sesaji. Hasipelebeguan adalah hal-hal tentang pemberian sajen atau sesajen (pelean) kepada roh-roh. "Pelean" = pemberian atau sumbangan, berasal dari kata "lean" = beri, berikan, sampaikan.
Agama Batak Kuno disebut "Malim" dan penganutnya "Parmalim," menganut kepercayaan monotheisme percaya dan menyembah Ompu Mulajadi Nabolon, Sang Maha Pencipta sebagai Tuhan Yang Maha Esa.*)
SIBORU DEANG PARUJAR MENAKLUKKAN NAGA PADOHA
MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (VI)
TINGKI NA LIMA VERSI BATAK
TINGKI NA LIMA
![]() |
| Kala Senja (Botari) di Dataran Tinggi Toba (Foto, 2011) |
hari yang akan datang.
2. Pangului adalah antara pukul 07.00 lewat s/d pukul 11.00 WIB (pagi
menjelang siang)
3. Hos ni Ari adalah tengah hari ketika matahari berada pada titik kulminasi,
antara pukul 11.00 lewat s/d pukul 13.00 WIB (siang hari). Lebih spesifik:
marhira hos = pukul sekitar pukul 11.00 WIB, jika dikatakan hos ari
atau tonga ari = tengah hari pada pukul 12.00 WIB.
4. Guling ni Ari,
Secara umum sebutan waktu antara pukul 13.00 (lewat tengah hari) s/d pukul
17.00 WIB (sore hari), dan secara khusus: guling ari: matahari mulai bergulir
(condong) ke Barat, pukul 13.00 s/d 15.00 WIB. Jika dikatakan guling dao:
(bergulir jauh) mulai pukul 15.00 lewat sampai 17.00 WIB
5. Bot ni Ari (Botari) adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00
(petang hari). Asal kata, bot = hampir gelap, menjelang malam.
Tingki na lima atau pembagian hari dalam lima kurun waktu ini disebut juga parmamis.
Cerita Tentang Guru Mangaloksa
Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea 4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....
-
S ejarah Pasaribu ABSTRAK PENDAHULUAN Kalau kepada orang yang bermarga Pasaribu di ajukan pertanyaan ini : Siapa orang yang bernama Pasa...
-
LOBU SARUKSUK LOBU SARUKSUK Lobu Saruksuk, i ma sada huta na pinungka ni Ompu Raja Saruksuk, di daearah Sipulak, Kec. Pagaran, Kab. Tapanuli...
