Kamis, 01 Oktober 2020

BABI ITU HARAM MENURUT PANDANGAN BATAK TRADISIONAL?


Pinahan Lobu (Foto, 2010)
Babi bahasa Bataknya adalah babi, pinahan lobu, parmiak-miak/namarmiak-miak (gemuk, berlemak), bahasa yang diperhalus "horbo na metmet" (kerbau kecil)

Konon –masih perlu pembuktian lebih lanjut dari catatan sejarah-, jenis hewan ini sering dibawa oleh pelaut bangsa Eropa, dan secara besar-besaran didatangkan pada akhir tahun 1800 an (awal tahun 1900 an) ke tanah Batak untuk diternakkan sebagai sumber kebutuhan konsumsi “daging” kaum penjajah/si mata putih (sibontar mata) dan rakyat jelata. Ternak ini memang murah, mudah dan cepat berkembang biak. Menurut orang Eropa masyarakat perlu menikmati daging sebagai lauk sehari-hari, karena sebelumnya orang Batak makan daging hanya saat pesta, atau menjamu tamu yang dihormati.

Sebaliknya pemimpin dan pemangku adat masyarakat Batak Tradisional dan kaum Malim (Parmalim) menyatakan bahwa daging babi itu “rotak” dan dikategorikan “subang” untuk dimakan karena akan membuat tubuh menjadi “ramun” (“ramun” artinya tercemar, subang artinya haram, pantang, terlarang atau tidak boleh dikonsumsi, sedangkan rotak artinya kotor). 

Pada era Batak tradisional daging untuk keperluan adat dan konsumsi adalah sigagat duhut (hewan atau ternak pemakan rumput yaitu: kerbau=horbo, sapi=lombu, kuda=hoda, kambing=hambing, domba=dorbia.dan ayam=manuk atau bebek=bibi). Sedangkan dewasa ini di kalangan Batak, “parmiak-miak" merupakan salah satu sajian adat Batak, dan untuk kaum parsubang pada pesta tersebut disediakan makanan lain yang tidak “dais” (terkena, tersentuh) hidangan “namarmiak-miak.”

ADAT BATAK DAN KRISTEN (II)

Adat Batak kuno mengalami perubahan dan adaptasi sejak agama Kristen masuk ke Tanah Batak sekitar 1860-an.  Beberapa di antaranya:

1. Martutu Aek (Pembabtisan)
Martutu Aek adalah ritual kepada seorang anak yang baru lahir, dan dibawa ke homban (telaga dari mata air di ladang) untuk dimandikan. Datu  (dukun) menciduk air dan memandikan bayi di tempat ini, selanjutnya prosesi pemberian nama.
Adat Martutu Aek ini kemudian menjadi Baptisan Kristen (Tardidi atau Pandidion) yang dilaksanakan di Gereja oleh Pendeta dengan memercikkan air kepada si bayi atau anak.

2. Mangalontik Ipon (Meratakan Gigi)
Ritual mangalontik ipon sebagai tanda seorang anak telah memasuki kedewasaan dan meninggalkan masa kanak-kanaknya. 
Tradisi ritual ini dirubah menjadi Angkat Sidi (Malua) yang dilaksanakan di Gereja kepada anak Kristen yang telah memasuki usia dewasa dan kematangan secara imani Kristen.

3. Margondang (Bergendang)

Jika margondang (permainan musik tradisional Batak) dilaksanakan sebagai pemujaan kepada Ompu Mulajadi Na Bolon pada acara ritual Batak kuno, maka pada Kristen, piano atau organ sebagai music untuk mengiringi lagu pujian kepada Tuhan sebagai bagian dari tata acara ibadah agama. 

KARYA TULIS DAN PANDANGAN PENGINJIL TENTANG BATAK

 Beberapa pendapat, karya tulis dan pandangan penginjil Kristen tentang Batak, yaitu:

  1. Tahun 1824, Penginjil Burton dan Ward dari Inggris dengan laporannya, “Report of Journey into the Batak Country in the Inferior of Sumatera, in the Year 1824” dalam “Transactions of the Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland,” terbit di London tahun 1827.  Isinya: gambaran, ciri-ciri dan keadaan kehidupan social, keramahan dan keterbukaan masyarakat Batak, selain itu juga adat istiadat, agama dan tata kehidupan penduduk di daerah Tapanuli sekitar Sibolga, Silindung dan sebagian Hurlang.
  2. Tahun 1849-1857, Herman Neubronner van der Tuuk (Dr. Van der Tuuk) --oleh orang Batak kuno dipanggil "Pandortuk"-- dari Amsterdam, utusan Dutch Bible Society (Kongsi Bible Netherland) membuka jalan pelayanan zending agama Kristen Protestan kepada suku Batak.  Selama delapan tahun Van der Tuuk bersosialisasi dengan masyarakat Batak di Barus, mempelajari tentang Batak. Ia menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak - Belanda yang terbit 1861 beserta cerita-cerita rakyat.
  3. Johannes Warneck, doctor theologia dari “Rheinischen Missionsgesellschaft” Jerman,  pernah bertugas di antaranya di Nainggolan (1893), Balige (1895). Tahun 1905, J. Warneck menyusun kamus Bahasa Batak Toba (Tobabataksch-Deutshes Wortherbuch).  Pendapat J. Warneck (1932) tentang upaya inkulturisasi Eropa terhadap adat Batak“Adat baru itu sekali-kali tidak dapat dibuat, setidak-tidaknya bukan dengan perantaraan orang Eropa, baik ia seorang pegawai pemerintah, maupun seorang utusan Zending.  Adat itu harus dengan sendirinya lahir dari perasaan yang paling dalam yang dikandung oleh suku bangsa itu.”   

HARAJAON BATAK (KERAJAAN BATAK)

 Kerajaaan (Harajaon) Batak berbentuk "state" (negara) dengan struktur pemerintahan dan tata aturan seperti negara-negara modern telah ada, bahkan sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit.  Pada masa itu nama kaum penduduknya belum dikenal sebagai "Batak." [1]  Harajaon Batak pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Tuan Sori Mangaraja, leluhur Si Raja Batak.  


Dari penelusuran sejarah dan beberapa sumber informasi, di mana letak dan tahun berdirinya kerajaan Batak pertama ini masih menjadi polemik.  Apakah di sepanjang Pantai Timur atau Pantai Barat Sumatera bagian Utara, atau di wilayah perbatasan Aceh (sekarang), atau di suatu tempat di daratan Asia, seputar tahun kejayaan kerajaan nusantara, Sriwijaya.   Kerajaan Batak ini tidak bertahan akibat suatu konflik dan politik pada masanya. Keturunannya dan para pengikutnya memilih hijrah ke daerah baru,  Pusuk Buhit.  Wilayah ini sangat strategis, berada di pegunungan yang dari puncaknya dapat mengawasi keadaan sekitar, tempatnya subur dan banyak sumber air. 

Pemulihan kerajaan memerlukan waktu, Si Raja Batak telah uzur, harus menyerahkan amanah kepada generasi berikut.  Amanah kerajaan diberikan kepada Raja Isumbaon (Raja yang disembah), bukan kepada putra pertama Guru Tatea Bulan.  Hal ini tampak pada pembagian warisan, yaitu pusaka Pustaha Tumbaga Holing (Kitab Tumbaga Holing) yang berisi berisi tentang: patik dohot uhum habatahonharajaon, partiga-tigaan (titah dan hukum Batak, aturan kerajaan dan tata perniagaan) [2] kepada Raja Isumbaon  sementara Guru Tatea Bulan mewarisi  Pustaha Laklak, yang berisi tentang pernujuman, ilmu perdukunan dan bela diri (parhalaan, hadatuon, parmonsakan).  

Guru Tatea Bulan sebenarnya berharap dapat memegang amanah kerajaan, tetapi persoalan internal putra-putrinya sangat pelik.  Putra pertamanya, Raja Gumeleng-geleng lahir, tidak sempurna wujud fisiknya, dan terkucil dari saudara-saudanya.  Atas permintaannya ia diantar oleh ibunya ke suatu tempat di lereng Pusuk Buhit.  Harapan kemudian jatuh kepada putra kedua yang diberi nama Sariburaja. Nama "Sariburaja" boleh jadi berasal dari Sriwijaya, dalam bahasa Sanskrit yaitu “Shri Vijaya atau Shri Bhoja yaitu Srivijaya.”  Artinya: Shri = bersinar atau berkilau, Vijaya = kemenangan atau keunggulan. Namun Saribujaya akhirnya terusir dari keluarga karena perbuatan incest dengan saudarinya  Siboru Pareme [3].

Raja Isumbaon melanjutkan proses restrukturisasi kerajaan, dan dilanjutkan oleh putranya  yang bernama Tuan Sori Mangaraja. Nama Sori Mangaraja ini seperti nama leluhurnya, berasal atau identik dengan Sri Maharaja (Sri Maharaj). Sampai di sini rangkaian tugas membangun dinasti kerajaaan Batak "terputus."   Justru dari generasi Guru Tatea Bulan, Raja Uti  "mendapatkan wahyu dan kesempurnaan.”  Ia memilih pergi ke wilayah ujung Aceh --atau Manduamas, Barus atau pulau di seberang Barus--. dan membangun kerajaan. Kerajaan ini berjaya dipimpin oleh Raja Uti Mutia Raja I sampai dengan VII. 

Dinasti Kerajaan Batak di bawah Raja Uti, beralih kepada Sisingamangaraja.  Sisingamangaraja I (Raja Manghuntal, --sumber lain menyebut Raja Mangkuta--) membangun Kerajaan Batak (Harajaon Batak) berkedudukan di Bakara, berlanjut hingga Sisingamangaraja XII, dengan sendi-sendi tata aturan "negara" Kerajaan

SIPELEBEGU

Sipelebegu, Pelebegu atau Hasipelebeguan berasal dari kata “pele” dan “begu”Pele artinya memberikan sesaji, sedangkan begu adalah roh.  Sipelebegu adalah pelaku kegiatan "pemberian sesaji"  kepada roh baik berupa  makanan, minuman atau sesuatu benda ke makam-makam, pohon besar, juga ke tempat yang diyakini keramat (sakral) atau angker (seram, menakutkan). Pelebegu atau Mamele Begu =  kegiatan pemberian  sesaji. Hasipelebeguan adalah hal-hal tentang pemberian sajen atau sesajen (pelean) kepada roh-roh. "Pelean" pemberian atau sumbangan, berasal dari kata "lean" = beri, berikan, sampaikan. 


Sipelebegu, Pelbegu, Hasipelebeguan bukan sebagai suatu aliran kepercayaan Batak, dan bukan sebagai agama di kalangan Suku Batak kuno. Suku Batak kuno sering dikatakan sebagai Sipelebegu karena kegiatan pemberian persembahan berupa sesaji yang ditujukan kepada roh-roh dalam suatu ritual.
   
Agama Batak Kuno disebut "Malim" dan penganutnya "Parmalim," menganut kepercayaan monotheisme percaya dan menyembah Ompu Mulajadi Nabolon, Sang Maha Pencipta sebagai Tuhan Yang Maha Esa.*)   
__________________

SIBORU DEANG PARUJAR MENAKLUKKAN NAGA PADOHA

MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (VI) 


Siboru Deang Parujar mulai khawatir bahwa Naga Padoha tidak bisa dirantai. Ia tetap berusaha, kali ini ia memohon kembali kepada Ompu Mulajadi Na Bolon, dan melalui Leang-leang Mandi diserahkan  rantai baja yang baru dan terkuat dari segala rantai yang pernah ada dan sebuah pasungan disertai tiga macam senjata pusaka.  Senjata pusaka berupa: pertama, kerudung pelindung panas; kedua, tongkat dan ketiga pedang. 

Siboru Deang Parujar segera menemui Naga Padoha “Jika waktu itu kamu sendiri yang merantai, sekarang akulah,” kata Siboru Deang Parujar beralasan sambil menunjukkan pasungan dan rantai yang baru.  Naga Padoha nyengir dan menurut, "Perkara kecillah itu," ujarnya dalam hati. Tanpa membuang waktu Siboru Deang Parujar memasung dan merantai Naga Padoha.  Ujung rantai pengikat leher ditambatkan di tongkat Tungkotungko Sipitu Tanduk.

“Sekarang aku sudah terikat lagi,” kata Naga Padoha sambil terkekeh, “Aku menagih janjimu!” Ia yakin sekejap akan ditunjukkannya keperkasaannya kembali di hadapan pujaan hati.

“Sabar dulu, ya,” bujuk Siboru Deang Parujar, “Berpalinglah!”.  Naga Padoha berpaling, dan segera Siboru Deang Parujar menghujamkan pedang dari Ompu Mulajadi Na Bolon ke tubuh Naga Padoha.  Mata pedang menancap dalam ditubuh Naga Padoha hingga tinggal gagang pedangnya (suhul) yang menyembul. 

Naga Padoha berteriak kesakitan, “Amangoi…!!!, Inangoi….!!! Hansit nai, puang!!!!”  Ia mencoba meronta tetapi sekujur tubuhnya kaku dan lemah, sukar digerakkan.  “Oh, apa yang telah kau lakukan padaku, Deang Parujar,” rintihnya kepayahan. Nafasnya terengah-engah.

“Sudah menjadi bagianmu!” seru Siboru Deang Parujar.  Ia lalu meminta tujuh kepal tanah dari Banua Ginjang menimbun Naga Padoha.  Naga Padoha secara perlahan tapi pasti semakin terkubur dan tenggelam dalam himpitan tanah di Banua Toru.  Sebelum betul-betul terkubur habis, terdengar teriakan Naga Padoha terakhir kali, “Aku akan membalas perbuatanmu. Aku akan menghancurkan daratanmu...!”

Naga Padoha sudah ditaklukkan tetapi tidak mati, ia terbenam, dan tempatnya inilah Banua Toru.  Sekali-kali ia dapat menggerakkan ekornya atau badannya kaku terhimpit dan terpasung.  Gerakan Naga Padoha inilah yang menyebabkan gempa bumi (lalo) di Banua Tonga.[*]  Suatu saat apabila Naga Padoha berjaya melepaskan diri, terjadilah bencana yang dahsyat di atas bumi.  Peristiwa itulah sebagai akhir jaman, kehancuran Banua Tonga.


[*] Jika terjadi gempa, Suku Batak Kuno akan meneriakkan, “Sahul… sahul, sahul…”.  Sahul artinya gagang pedang, untuk mengingatkan pedang yang ditusukkan Siboru Deang Parujar agar Naga Padoha  akan berhenti bergerak.

TINGKI NA LIMA VERSI BATAK

 

TINGKI NA LIMA

Kala Senja (Botari) di Dataran Tinggi Toba (Foto, 2011)
Tingki na lima (dibaca: tikki na lima) atau "waktu nan lima" adalah pembagian waktu terang dalam sehari mulai dari torang ari (hari terang), pukul 05.00 WIB ke binsar mataniari  (matahari bersinar) sampai dengan bot ari (menjelang gelap) ke mate mata ni ari (matahari terbenam) , yaitu: 

1. Sogot ni Ari adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 WIB (pagi hari). 
    Asal kata : sogot = pagi. Sogot juga bisa berarti  besok (marsogot) atau 
    hari yang akan datang.
2. Pangului  adalah antara pukul 07.00 lewat s/d pukul 11.00 WIB (pagi 

    menjelang siang)
3. Hos ni Ari  adalah tengah hari ketika matahari berada pada titik kulminasi, 
    antara pukul 11.00 lewat s/d pukul 13.00 WIB (siang hari). Lebih spesifik:
    marhira hos = pukul sekitar pukul 11.00 WIB, jika dikatakan hos ari 
    atau tonga ari = tengah hari pada pukul 12.00 WIB.
4. Guling ni Ari, 
   Secara umum sebutan waktu antara pukul 13.00 (lewat tengah hari) s/d pukul 
   17.00 WIB (sore hari), dan secara khusus: guling ari: matahari mulai bergulir 
   (condong) ke Barat, pukul 13.00 s/d 15.00 WIB.  Jika dikatakan guling dao: 
   (bergulir jauh) mulai pukul 15.00 lewat sampai 17.00 WIB    
5. Bot ni Ari (Botari) adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 
   (petang hari). Asal kata, bot = hampir gelap, menjelang malam.


Tingki na lima atau pembagian hari dalam lima kurun waktu ini disebut juga parmamis.

Cerita Tentang Guru Mangaloksa

  Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea    4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....