Tulisan artikel ini sebagian dikutip dari berbagai sumber,bertujuan untuk pembelajaran/pemahaman sejarah batak khususnya untuk keturunan op tuan sariburaja dan generasinya
Rabu, 19 Mei 2021
Selasa, 06 Oktober 2020
BULUNG MOTUNG
Pada pembukaan salah satu syair sastra Batak disebutkan:
Bulung motung si dua rupa, na bontar nang rata-rata
Terjemahannya: Daun Motung berwajah dua, yang putih dan yang hijau.
Motung atau gumbot /gubbot/ adalah sejenis tanaman pohon kayu hutan yang banyak terdapat di dataran tinggi tanah Batak. Sibulung Motung adalah daun pohon tanaman tersebut yang mempunyai keunikan yakni terdiri dari dua warna. Permukaan daunnya hijau sedangkan bagian bawahnya putih bersih. Ukurannya seperti daun jati bisa mencapai panjang satu hasta dan lebar satu setengah jengkal orang dewasa
Bulung motung pada masyarakat tradisional Batak dipergunakan untuk pembungkus bahan makanan, seperti halnya daun pisang atau daun jati. Daun ini juga difungsikan sebagai piring tempat menghidangkan nasi dan lauk, sehingga dalam bahasa sastra Batak atau bahasa andung-andung disebut juga pinggan puti harangan artinya piring putih hutan (pinggan = piring; puti = putih dan harangan = hutan/rimba belantara).
Homang dan Gulambak
Homang dan Gulambak adalah dua jenis makhluk “misteri” di tanah Batak.
Homang (Sihomang)
Sejenis makhluk yang wujudnya menyerupai manusia, tetapi berwajah menyeramkan lebih mirip ke "orang utan." Berbulu dan ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dari pria dewasa. Konon telapak kaki dan tangannya posisinya terbalik, jari jemarinya menghadap ke belakang.
Makhluk ini suka menyesatkan seseorang ke suatu tempat sunyi atau ke dalam hutan belantara bahkan menculik (biasanya anak gadis) tetapi setelah beberapa hari mengembalikan ke tempat semula berada.
Makhluk ini beraksi di malam hari di jalanan kampung yang gelap atau di tengah hutan rimba belantara yang jarang atau tidak pernah dilalui manusia.
Menurut versi kisah Saribu Raja, ketika melewati suatu hutan rimba belantara (diistilahkan: “tombak na limuton, harangan rimbun rea, parhais-haisan ni babiat, paranggunanggunan ni homang” atau hutan berlumut, belantara lebat, tempat harimau mencari makan, tempat berayun-ayun homang) ia bertemu dan berkelahi dengan Sihomang. Namun akhirnya ia menikah dengan putri Sihomang, seorang wanita cantik berwujud manusia bernama Nai Manggiring Laut. Dari perkawinan ini lahirlah Si Raja Borbor.
Gulambak (Sigulambak)
Menurut cerita orang tua-tua, selain Homang, ada juga makhluk misteri di tanah Batak yang dinamakan Gulambak (Sigulambak). Makhluk ini katanya menyerupai hewan kambing (ada yang bilang seperti kuda) berdiri di atas kedua kakinya dan suka meringkik "tertawa" ketika bertemu manusia.
Makhluk ini “usil” tetapi tidak bermaksud mencelakakan atau melukai manusia. Ia suka mengganggu, menggoda manusia yang berjalan sendirian dengan cara tiba-tiba muncul menyeringai menghadang manusia di jalanan atau menguntit-untit orang dari belakang sambil mencolek-colek "manggedeki" (menggelitiki) manusia yang diganggunya. Kemunculannya di malam hari, terutama saat bulan purnama, di tempat sepi tetapi suka dilalui manusia.
Menurut versi kisah Saribu Raja, ketika melewati suatu hutan rimba belantara (diistilahkan: “tombak na limuton, harangan rimbun rea, parhais-haisan ni babiat, paranggunanggunan ni homang” atau hutan berlumut, belantara lebat, tempat harimau mencari makan, tempat berayun-ayun homang) ia bertemu dan berkelahi dengan Sihomang. Namun akhirnya ia menikah dengan putri Sihomang, seorang wanita cantik berwujud manusia bernama Nai Manggiring Laut. Dari perkawinan ini lahirlah Si Raja Borbor.
Gulambak (Sigulambak)
Menurut cerita orang tua-tua, selain Homang, ada juga makhluk misteri di tanah Batak yang dinamakan Gulambak (Sigulambak). Makhluk ini katanya menyerupai hewan kambing (ada yang bilang seperti kuda) berdiri di atas kedua kakinya dan suka meringkik "tertawa" ketika bertemu manusia.
Makhluk ini “usil” tetapi tidak bermaksud mencelakakan atau melukai manusia. Ia suka mengganggu, menggoda manusia yang berjalan sendirian dengan cara tiba-tiba muncul menyeringai menghadang manusia di jalanan atau menguntit-untit orang dari belakang sambil mencolek-colek "manggedeki" (menggelitiki) manusia yang diganggunya. Kemunculannya di malam hari, terutama saat bulan purnama, di tempat sepi tetapi suka dilalui manusia.
BONANG MANALU & SITIGA BOLIT
| Sitiga Bolit pada Patung Sigale-gale (Foto, 2010) |
Bonang Manalu adalah tiga benang berwarna putih, merah dan hitam yang dijalin atau dipilin menjadi satu kesatuan, sebagai hiasan pada tongkat ukir tunggal panaluan dan juga berfungsi sebagai sarana magis untuk suatu ritual maupun metode pengobatan tradisional Batak. Bonang artinya benang dan manalu (berasal dari kata ma dan tolu) artinya tiga menyatu/dalam satu kesatuan.
Sitiga Bolit adalah tiga benang dijalin secara teratur menjadi satu (bonang manalu) dengan ukuran tertentu digunakan untuk ikat yang melilit di kepala, seperti bentuk serban. Tiga (sitiga) artinya tiga, dan bolit artinya belit, belitan, pilinan, atau jalinan.
Warna putih, merah dan hitam merupakan warna utama dan dominan bagi Suku Batak dalam berbagai corak ragam hias, seperti pada warna gorga di ruma Batak (ukiran di rumah adat Batak) dan perangkat musik gondang.
Ketiga warna tersebut juga mempunyai makna dan simbolisme khusus menurut kepercayaan religi Batak kuno, yaitu:
Ketiga warna tersebut juga mempunyai makna dan simbolisme khusus menurut kepercayaan religi Batak kuno, yaitu:
- Putih sebagai perlambang kesucian, kebenaran, kejujuran dan ketulusan (sohaliapan, sohapurpuran), juga simbol kosmologi Banua Ginjang (dunia atas)
- Merah sebagai perlambang kekuatan (hagogoon) dan keberanian, simbol Banua Tonga (dunia tengah).
- Hitam sebagai perlambang kerahasiaan (hahomion), kewibawaan dan kepemimpinan, simbol Banua Toru (dunia bawah)
SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA
SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA
![]() |
| Diagram: Manusia Pertama Batak di Banua Ginjang |
Suku Batak adalah keturunan Dewata, demikian menurut turi-turian Batak. Bermula dari mitologi kelahiran manusia pertama (Batak) di Banua Ginjang, atas kuasa Sang Maha Pencipta, Ompu Mulajadi Na Bolon, yakni, laki-laki dari dari 3 (tiga) butir telur dan perempuan dari 3 (tiga) ruas bambu yang diasuh oleh Manuk Patiaraja (Hulambujati) dan Manuk Mandoangmandoing. Di beberapa literatur, tidak dijelaskan adanya manuk Mandoangmandoing hanya Manuk Patiaraja (Hulambujati).
Manusia pertama ini tinggal di Banua Ginjang (surgaloka), dan mereka adalah Debata (Dewata) [1],yaitu: Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan. Ompu Mulajadi Na Bolon kemudian menjadikan pasangan hidup dan pendamping yang sepadan dari ruas bambu, yakni S. Parmeme, S. Parorot dan S. Panuturi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah keturunan putra dan putri sebagaimana diuraikan pada diagram.
Putra O.T. Soripada yaitu Raja Indapati alias Raja Endaenda menikah dengan putri O.T. Batara Guru, Siboru Deang Parujar, lahirlah Raja Ihat Manisia [2a]. Generasi berikutnya berturut-turut adalah Raja Miok-miok - Eng Banua - Eng Domia (Raja Bonang-bonang) - Raja Tantan Debata dan Si Raja Batak (lihat dan klik Silsilah Si Raja Batak).
Pada awalnya Siboru Deang Parujar tidak bersedia dinikahkan dengan Si Raja Enda-enda. Pengingkaran akan ini, maka manusia tidak lagi hidup bersama Dewata di Banua Ginjang tetapi tinggal di Banua Tonga. Suratan kehidupan, dan "sudah berjodoh" akhirnya Raja Endaenda menikah dengan Siboru Deang Parujar. [2b]
Tentu saja bahwa "Suku Batak Keturunan Dewata" tidak diartikan secara harfiah begitu saja, dan bukan sikap superioritas Batak atas kesukuannya. Ada nilai-nilai dalam bentuk perandaian (partudosan) seperti telah diuraikan pada makna di balik Mitologi Batak (klik di sini). Turi-turian tersebut merupakan bentuk pesan moral, nasihat dan didikan kepada keturunan Batak dalam menghormati, menghargai leluhur bersikap terhadap orang tua.
Kini dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, dan juga dalam syair lagu Batak masih terdapat istilah : "orang tua (Ayah dan Ibu atau Daamang dohot Dainang) adalah debata na ni ida atau debata na tarida (dewata yang dilihat, dewata yang tampak), atau "daamang da inang i do debata na ni ida".
Dengan demikian, Debata juga dimaknai sebagai panggilan atau gelar penghormatan oleh Suku Batak disamping Ompu atau Ompung.[3]
_______________
GURU PATIMPUS
GURU PATIMPUS
![]() |
| Silsilah Keluarga Guru Patimpus |
Guru Patimpus, adalah cucu dari Sisingamangaraja I, Raja Manghuntal dari Bakara. Menurut Riwayat Hamparan Perak sebagai berikut: "Alkisah kata sahibul hikayat suatu cerita dahulu kala seorang Raja bernama Singa Mahraja memerintah di negeri Bakerah." (Singa Mahraja dimaksud adalah Sisingamangaraja dan negeri Bakerah adalah Negeri Bakara).
Sisingamangaraja I mempunyai dua putra, Tuan Mandolang, putra I, terpilih menjadi Sisingamangaraja II menggantikan ayahnya. Putra kedua, Tuan Si Raja Hita perpamitan dan meminta doa restu kepada ayahnya Sisingamangaraja I untuk pergi ke negeri lain, bersama pengikutnya bermaksud untuk mendirikan kerajaaan baru. Bertahun ia berjalan sampai di Gunung Si Bayak (Gunung Sibayak), dataran tinggi Karo, dan dibuatlah nama kampung itu Karo Sepuluh Dua Kuta.
Tuan Si Raja Hita mendirikan beberapa kerajaan untuk anaknya Pakan dan Balige, tetapi Timpus putra sulungnya tidak bersedia menjadi Raja dan lebih suka berpetualang mencari dan mengadu ilmu, ia kemudian dipanggil orang Guru Patimpus.*
Guru Patimpus menikah dengan putri raja Ketusing. Dari pernikahan ini lahir enam putra, dan satu putri (putri ini dinikahkan dengan Raja Tangging). Setiap lahir putra dibukanya kampung yang diberi nama sesuai nama anaknya yaitu: Benara, Kuluhu, Batu, Salahan, Paropa dan Liang Tanah.
Guru Patimpus mendengar bahwa di Karo terjadi huru-hara. Dia datang ke Karo dan tiba di Ajei Jahei. Dia mendamaikan raja-raja yang bertikai, dan kemudian tinggal dan menikah di sana, lahirlah putranya pertama, Si Gelit, dan kedua Si Jahei yang menjadi raja di Ajei Jahei.
Guru Patimpus menikah lagi dengan putri Kepala Pulau Berayan bermarga Tarigan, dan setelah itu ia membuka dan mendirikan kota Medan sekitar tahun 1590, sebagai pusat pemerintahan kerajaannya dan dilanjutkan dengan putranya Hafiz Muda.
Demikian riwayat Guru Patimpus dari sumber Riwayat Hamparan Perak, yang disalin dengan Bahasa Melayu dari kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa Karo pada tahun 1274 H.
Catatan Khusus: 15-05-2013
Sehubungan polemik Guru Patimpus, tulisan "Sinambela" setelah nama Guru Patimpus ini diedit dan kata "Batak" setelah "... kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa.." diganti dengan "Karo."
Informasi mengenai polemik ini juga diuraikan pada: Kota Yang Kehilangan Jejak.
______________________________________
Catatan Khusus: 15-05-2013
Sehubungan polemik Guru Patimpus, tulisan "Sinambela" setelah nama Guru Patimpus ini diedit dan kata "Batak" setelah "... kulit Alim (Pustaha Laklak) berbahasa.." diganti dengan "Karo."
Informasi mengenai polemik ini juga diuraikan pada: Kota Yang Kehilangan Jejak.
______________________________________
* = Seseorang yang memiliki tingkatan keahlian/ ilmu di atas Datu disebut Guru. Guru adalah gelar kehormatan karena para datu lain mengakui keunggulannya bahkan meminta petunjuk atau berguru kepadanya selaku suhu/mahaguru atau datunya Datu. Lebih detail Klik di sini: "Datu, Sibaso, Guru dan Tuan"
Senin, 05 Oktober 2020
DATU, SIBASO, GURU DAN TUAN
Datu (dukun) adalah seseorang yang mempunyai kemampuan di luar daya normal manusia awam (kemampuan supranatural/paranormal). Dalam struktur masyarakat Batak tradisional, Datu mendapat posisi terhormat karena kompetensinya di bidang membaca dan menulis aksara Batak, dan kemampuan lain seperti pengobatan, ilmu nujum, parhalaan (penanggalan) untuk membaca hari baik dan buruk. Selain itu seorang Datu memegang fungsi dan peran penting “sesuai jurusan kualifikasi keilmuaannya” dalam kelompok masyarakat territorial huta, dan berasal dari garis keturunan marga yang menempati huta. Setiap marga dalam satu huta minimal mempunyai seorang Datu.
Seorang Datu tidak serba menguasai semua bidang-bidang hadatuon (perdukunan), tetapi biasanya terdapat satu keahlian khusus yang menonjol di bidangnya. Misalnya Datu Partaoar, dengan ramuan-ramuannya lebih ahli di bidang obat penyembuh dan penawar racun, Datu Pangatiha Pandang Torus mempunyai kemampuan sebagai peramal, dan Datu Panuju keahliannya untuk mengatur cuaca, seperti mendatangkan hujan atau menangkal hujan.
Fungsi dan peran Datu di dalam masyarakat Batak kuno, sebagai:
- Pemimpin ritual dan religi Batak.
- Tabib dengan ramuan tradisional yaitu:
- Tambar = obat tradisional dari racikan dedaunan, akar-akar
atau batang tanaman (ramuan herbal);
atau batang tanaman (ramuan herbal);
- Taoar = berupa ramuan dari racikan berbagai tambar dan bahan-bahan lain
yang berkhasiat untuk obat penawar racun, guna-guna atau
obat penyembuh penyakit.
- Ahli Nujum, menggunakan parhalaan (kalender Batak), memperkirakan hari baik yang tepat (maniti ari) untuk melakukan sesuatu ulaon seperti pesta; memasuki rumah baru dan sebagainya. Ia juga dapat melakukan prakiraan (ramalan) berdasarkan gejala-gejala alam dan menggunakan media tertentu.
- Penasihat dalam permasalahan hubungan antara anggota masyarakat dalam huta atau antar huta, membentengi secara magis suatu huta atau dalam perang mempunyai aji-ajian sitorban dolok (ilmu meruntuhkan gunung).
Datu umumnya pria, datu perempuan disebut Sibaso. Sibaso dalam komunitas huta lebih berperan sebagai “dukun persalinan” yang ahli dibidang kebidanan, penyakit wanita dan ramuan-ramuan obat tradisional (tambar). Sibaso perannya tidak sebesar Datu. Pada upacara ritual tertentu Sibaso berfungsi mendampingi Datu (pria) sebagai medium dalam “kesurupan roh.”
Seseorang yang memiliki tingkatan keahlian di atas Datu disebut Guru. Guru adalah gelar kehormatan yang diberikan masyarakatnya karena keunggulannya dan reputasinya yang diakui para datu lainnya. Bahkan datu dari huta lain meminta petunjuk atau berguru kepadanya, sehingga ia merupakan suhu atau mahaguru datu alias “datunya Datu”.
Raja di huta tanah Batak umumnya memiliki sahala hadatuon, atau kemampuan seperti datu.*). Seorang Raja yang memegang posisi sebagai pemimpin tertinggi di kelompoknya tetapi juga disegani, dihormati dan diakui sebagai sesepuh oleh pemimpin kelompok lain diluar marga atau hutanya, disebut Tuan (yang terhormat). Tuan tingkatannya lebih tinggi di atas Guru.
Sisingamangaraja termasuk yang bergelar Tuan, atau lengkapnya Ompu Tuan Sisingamangaraja. Bandingakan juga dengan Guru Tatea Bulan (putra pertama Si Raja Batak) dan Tuan Sori Mangaraja (cucu Si Raja Batak).**)
Langganan:
Komentar (Atom)
Cerita Tentang Guru Mangaloksa
Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea 4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....
-
S ejarah Pasaribu ABSTRAK PENDAHULUAN Kalau kepada orang yang bermarga Pasaribu di ajukan pertanyaan ini : Siapa orang yang bernama Pasa...
-
LOBU SARUKSUK LOBU SARUKSUK Lobu Saruksuk, i ma sada huta na pinungka ni Ompu Raja Saruksuk, di daearah Sipulak, Kec. Pagaran, Kab. Tapanuli...



