Jumat, 13 Agustus 2021

Orang Batak Keturunan Yahudi dan Orang Batak Keturunan Israel Yang Hilang

 Orang Batak Keturunan Yahudi dan Orang Batak Keturunan Israel Yang Hilang

Jakarta - Apakah memang benar "Orang batak keturunan Yahudi"?. Atau apakah orang batak keturunan Israel yang Hilang?

Sebagai seorang pemuda yang bukan lagi kelahiran pada jaman itu, maka tidak dipastikan apakah memang batak itu keturunan Yahudi. Namun, sebagai pemuda juga yang penting mengenai sejarah, akan memberikan disini sebagai jawaban dari para tetua atau "Raja Adat" yang bisa kita simpulkan mengenai hal tersebut.

Oppung Doli (kakek, Red) Pardamean yang tinggal di Pangaribuan, Tapanuli Utara sewaktu kami berbincang-bincang ahirnya menanyakan hal ini. Alhasil Oppung itu pun "marturi-turiaan" (bercerita) menurut yang oppung tau, dan begini hasil Turi-turian kami.

Orang batak tentunya pasti tahu tentang Raja Sisingamangaraja I-XII. Pada jaman sisingamaraja, maka dia adalah pimpinan tertinggi Ugamo Malim. Malim adalah sebuah agama yang diyakini oleh orang batak pada jaman dahulu bahkan tidak ada agama lain yang dikenal baik itu agama Kristen, Islam dan agama yang lain. Parmalim disebut sebagai petinggi Malim. namun sekarang malim sudah hampir tidak bisa lagi di temukan, bahkan dikampung Oppung pardamean sendiri tidak ada lagi sudah sangat jarang ada malim bahkan sudah semua mempunyai agama dan rata-rata adalah agama Kristen.

Menurut Op pardamean mengapa selama ini banyak orang mengatakan orang batak adalah keturunan yahudi, itu mungkin karena kemiripan adat dan upacara orang yahudi kuno dengan orang batak. Sehingga disebut-sebut orang batak keturunan israel yang Hilang.

Menjaga terus silsilah (Tarombo)

Orang Batak Keturunan Yahudi dan Orang Batak Keturunan Israel Yang Hilang

Tarombo adalah silsilah batak dari turun temurun dan setiap orang batak ada "Marga" yang harus di ketahui juga kepada siapa dia tidak boleh menikah, kepada siapa dia panggil adik, abang dan sebagainya. Orang batak menjaga ketat ini dan tidak ada orang batak yang tidak ber marga, jika tidak maka dia bukan orang batak (terutama Laki-laki)

Bangsa israel kuno juga memiliki kemiripan dengan Orang Batak yang sampai kini terjaga. Dimana mereka juga memiliki silsilah yang wajib mereka tahu waktu itu. Bahkan didalam isi alkitab juga banyak kita jumpai tentang silsilah, tidak terkecuali dalam isi perjanjian lama dan isi perjanjian baru. Disana akan lengkap dijelaskan silsilah Yesus Kristus.

Perempuan harus dibeli (Sinamot)

Orang Batak kalau mau nikah harus mempersiapkan sejumlah uang untuk membeli perempuan dan disebut dengan "Sinamot". Setelah sinamot sudah ada dan mempelai laki-laki dan perempuan juga sudah saling setuju, maka pihak mempelai laki-laki juga harus minta persetujuan dari mempelai wanita. Dan sinamot juga diberikan atas kesepakatan kedua belah pihak.

Orang Yahudi kuno juga persis seperti ini, dimana mempelai wanita harus dibeli dan hal ini berarti bahwa betapa pentingnya mempelai wanita bagi mempelai laki-laki. Dan orang tua mempelai wanita harus menyetujui hubungan putrinya, jika ya maka ya dan jika tidak maka tidak. Bahakan dalam alkitab juga dituliskan Seperti dalam Kejadian 24:57-58, Ribka juga diberikan pilihan, apakah ia SETUJU atau TIDAK..

Anak Sulung (Siakkangan)


Sebagai pengganti Ayah dari orang batak kalau sudah meninggal adalah anak Siakkangan. Anak siakkangan akan mengganti ayahnya menjaga adik-adinya dan menuntun ke jalan yang benar, memberikan nasehat juga bertanggung jawab terhadap semua adik-adiknya.

Bagi bangsa israel Sejak dahulu kala, Anak sulung mendapat kedudukan terhormat dalam keluarga dan dialah yang meneruskan kekepalaan dalam rumah tangga. Dia mewarisi dua bagian dari harta milik ayahnya (Ul 21:17), dan dia juga yang memimpin adik-adiknya.

Pemindahan Tulang Belulang (mangungkal Holi)


mangungkal Holi

Mangongkal holi yang artinyaadalah sebuah adat atau tradisi orang batak dari jaman ke jaman membongkar kembali tulang-belulang dan menempatkannya kembali ke suatu tempat, tepatnya di sebuah tugu.

Orang yahudi juga melakukan hal yang sama, dimana kalau kita membaca kitab Keluaran, Disitu dikatakan bahwa orang Israel, ketika keluar dari Mesir, ikut membawa tulang-tulang Yusuf ke tanah Kanaan (Keluaran 13:19). Pemindahan tulang-tulang itu sendiri atas permintaan Yusuf sebelum meninggal (Kejadian 50:25).

Anak laki-laki sebgai Penerus (marga, warisan)
Ahli waris

Sebgai generasi penerus marga, maka laki-laki lah jawabanya. Perempuan jika sudah menikah, maka keturunanya tidak lagi semarga dengan dia, sudah dari marga suaminya. Bila orang batak mempunyai anak laki- laki dan perempuan, terutama laki- laki, maka statusnya berubah secara otomatis dan kehormatannya semakin meningkat. semua harta warisan orang tua adalah milik laki-laki dan marga diwariskan juga pada laki-laki.

Masyarakat Israel kuno juga memiliki kemiripan, yaitu mereka menganut sistem kekerabatan patrilineal, di mana anak laki-laki sulung meneruskan silsilah/ klan ayahnya. dan sama juga bagi orang batak jika suatu keluarga tidak punya anak laki dan hanya ada anak perempuan saja, maka Anak perempuan itu dapat melanjutkan silsilah keluarga tersebut sebelum perempuan itu menikah.


Ilmu gaib (hadatuon, Dukun)
Orang Batak pada jaman dahulu terkenal dengan ilmu gaibnya. Dari cerita, Orang batak bisa terbang, bisa mengfhilang (marhaliddo) bahkan bisa mengubah debu menjadi tawon.dulu hadatuon adalah suatu ilmu yang dapat diajarkan dan dapat dipelajari oleh orang-orang tertentu yang memang memiliki kemampuan dan karunia khusus yang disebut sahala hadatuon.

Orang israel kuno juga adalah orang yang disegani karena ilmu gaibnya. terutama Suku Falasha (Beta Israel) di Ethopia yang sangat disegani karena paranormal disana hampir tidak tertandingi.

Dari tulisan diatas, itulah beberapa turi-turian yang kami dapatkan. Oppung pardamean mengatakan, kemungkinan besar adalah karena ini disebut-sebut batak sebagai keturunan yahudi yang hilang. Yang berarti, tidak ada yang membuktikan bahwa orang batak benar-benar keturunan israel hanya memiliki beberpa kemiripan saja dan itu tidak dapat dijadikan sebagai buktu bahwa orang batak adalah keturunan israel.


www.sigotom.com/orang-batak-keturunan-yahudi-dan-orang.html?m=1

Orang batak pasti bangga, karena mereka keturunan anak anak Daud

20 Fakta Bangso Batak Keturunan Bangsa Israel Yang Hilang

 

20 Fakta Bangso Batak Keturunan Bangsa Israel Yang Hilang


Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.

Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel. Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan.

Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia.

Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup.

Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kimpoi campur dengan
penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.

Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting, dll.

Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan.
Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya mengapa ada Israel hitam.

Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan- perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang
dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang
konon ada disana.

Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra), adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang, pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi, guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.
Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama, dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar
Alkitab.

Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel kuno adalah sebagai berikut:

1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga)
Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya dianggap na lilu – tidak tahu asal-usul – yang merupakan cacat kepribadian yang besar.

Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang
ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud dan pihak ibuNya (Maria).
TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga.

2). Perkimpoian yang ber-pariban
Ada perkimpoian antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak, tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau
anak laki-laki dari saudara perempuan bapa.

Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel. Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan perkimpoian seperti itu.

3). Pola alam semesta
Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola yang sama.

4). Kredibilitas
Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang
pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan
pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga demikian.

5). Hierarki dalam pertalian semarga
Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki- laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki -laki mendiang
Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya, mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do salohot, marnata do na sumolhot.

6). Vulgarisme
Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda- beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah: son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini. Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll.

Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarka 6ea n sumpah serapahnya:, , Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege, hubasbas, huripashon ho annon !!!”. Terjemahannya kira-kira begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!”.

Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya
serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis sama dengan sumpah serapah orang Batak).

7). Nuh dan bukit Ararat
Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab.
Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit Pusuk Buhit.

Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput gunung. Bambu – dari mana kakek moyang keluar – menurut nalar mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar.

Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi
Pusuk Buhit.

8). Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang)
Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat
mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar.

Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh seorang nabi).

9). Peratap/Ratapan
Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung.
Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair kematian dan syair kesedihan hati.

Di desa-desa, terutama di daerah leluhur – Tapanuli – tidak mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung
hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar, sekedar menunjukkan rasa terima kasih.
Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap.

Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati bukan pada acara kematian.

10). Hierarki pada tubuh
Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah. Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak
kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah telapak kakiku ini”, sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh
seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi.
Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang
lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya

11). Anak sulung
Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh
anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar, memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang melekat pada anak sulung.

12). Gender
Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak perempuan dalam silsilah keluarga.

13). Pemberian Nama Bayi yang Lahir Tujuh Hari
Di dalam tradisi Parmalim – Agama Leluhur Batak Kuno, setiap anak bayi yang lahir selama tujuh hari harus di bawa ke Pancur untuk Permandian dan sekaligus pemberian nama. Permandian bayi yang sudah tujuh hari itu diserahkan ke Imam Parmalim. Setelah itu diberi nama dengan diadakannya Pesta Martutu Aek.

14). Monoteisme Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim
Hamalimon – Parmalim – Ugamo Malim, Agama Leluhur Bangso Batak Toba Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab- kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim.

Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang ke dalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih. Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak.
TUHAN menurut Hamalimon –Parmalim – Ugamo (Agama) Malim
Ugamo malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang Besar, red). Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.
Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama
asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim, pen).

Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja pertama di Desa Pancuran, Barus.

16). Ibadah Parmalim
Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual) Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.

17). Ibadah setiap Hari Sabtu – Samisara -Marari Sabtu
Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau melakukan kegiatan apapun. Penganut Parmalim melakukan ucapan syukur pada setiap hari Sabtu.

18). Larangan makan Babi, Anjing, Binatang liar, dan Darah
Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.

19). Ritual
Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima),
yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. “Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan,” kata
Marnangkok.

20.) Kisah – Mitos
Dalam Kitab Parmalim, yakni Tumbaga Holing, terdapat kisah manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang, sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah- rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme
Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim –
Hamlimon – Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.

Selasa, 06 Oktober 2020

BULUNG MOTUNG

  Pada pembukaan salah satu syair sastra Batak disebutkan:


         Bulung motung si dua rupa, na bontar nang rata-rata
         Terjemahannya: Daun Motung berwajah dua, yang putih dan yang hijau.

Motung atau gumbot /gubbot/ adalah sejenis tanaman pohon kayu hutan yang banyak terdapat di dataran tinggi tanah Batak.  Sibulung Motung adalah daun pohon tanaman tersebut yang mempunyai keunikan yakni terdiri dari dua warna.  Permukaan daunnya hijau sedangkan bagian bawahnya putih bersih. Ukurannya seperti daun jati bisa mencapai panjang satu hasta dan lebar satu setengah jengkal orang dewasa  

Bulung motung pada masyarakat tradisional Batak dipergunakan untuk pembungkus bahan makanan, seperti halnya daun pisang atau daun jati.  Daun ini  juga difungsikan sebagai piring   tempat menghidangkan nasi dan lauk, sehingga dalam bahasa sastra Batak atau bahasa andung-andung disebut juga pinggan puti harangan artinya piring putih hutan (pinggan = piring; puti = putih dan harangan = hutan/rimba belantara). 

Homang dan Gulambak

  Homang dan Gulambak adalah dua jenis makhluk “misteri” di tanah Batak.  


Homang (Sihomang)


Sejenis makhluk yang wujudnya menyerupai manusia, tetapi berwajah menyeramkan lebih mirip ke "orang utan."  Berbulu dan ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dari pria dewasa.  Konon telapak kaki dan tangannya posisinya terbalik, jari jemarinya menghadap ke belakang. 

Makhluk ini suka menyesatkan seseorang ke suatu tempat sunyi atau ke dalam hutan belantara bahkan menculik (biasanya anak gadis) tetapi setelah beberapa hari mengembalikan ke tempat semula berada. 

Makhluk ini beraksi di malam hari di jalanan kampung yang gelap atau di tengah hutan rimba belantara yang jarang atau tidak pernah dilalui manusia.

Menurut versi kisah Saribu Raja, ketika melewati suatu hutan rimba belantara (diistilahkan: “tombak na limuton, harangan rimbun rea, parhais-haisan ni babiat, paranggunanggunan ni homang” atau hutan berlumut, belantara lebat, tempat harimau mencari makan, tempat berayun-ayun homangia bertemu dan berkelahi dengan Sihomang. Namun akhirnya ia menikah dengan putri Sihomang, seorang wanita cantik berwujud manusia bernama Nai Manggiring Laut.  Dari perkawinan ini lahirlah Si Raja Borbor.

Gulambak (Sigulambak)

Menurut cerita orang tua-tua, selain Homang, ada juga makhluk misteri di tanah Batak yang dinamakan Gulambak (Sigulambak).  Makhluk ini katanya menyerupai hewan kambing (ada yang bilang seperti kuda) berdiri di atas kedua kakinya dan suka meringkik "tertawa" ketika bertemu manusia. 

Makhluk ini “usil” tetapi tidak bermaksud mencelakakan atau melukai manusia. Ia suka mengganggu, menggoda manusia yang berjalan sendirian dengan cara tiba-tiba muncul menyeringai menghadang manusia di jalanan atau menguntit-untit orang dari belakang sambil mencolek-colek "manggedeki" (menggelitiki) manusia yang diganggunya.  Kemunculannya di malam hari, terutama saat bulan purnama, di tempat sepi tetapi suka dilalui manusia.

BONANG MANALU & SITIGA BOLIT


Sitiga Bolit pada Patung Sigale-gale (Foto, 2010)

Bonang Manalu adalah tiga 
benang berwarna putih, merah dan hitam yang dijalin atau dipilin menjadi satu kesatuan, sebagai hiasan pada tongkat ukir tunggal panaluan dan  juga berfungsi sebagai sarana magis untuk suatu ritual maupun metode pengobatan tradisional Batak.   Bonang artinya benang dan manalu (berasal dari kata ma dan tolu) artinya tiga menyatu/dalam satu kesatuan.

Sitiga Bolit adalah tiga benang dijalin secara teratur menjadi satu (bonang manalu) dengan ukuran tertentu digunakan untuk ikat yang melilit di kepala, seperti bentuk serban.  Tiga (sitiga) artinya tiga, dan bolit artinya belit, belitan, pilinan, atau jalinan.

Warna putih, merah dan hitam merupakan warna utama dan dominan bagi Suku Batak dalam berbagai corak ragam hias, seperti pada warna gorga di ruma Batak (ukiran di rumah adat Batak) dan perangkat musik gondang.

Ketiga warna tersebut juga mempunyai makna dan simbolisme khusus menurut kepercayaan religi Batak kuno, yaitu:
  • Putih   sebagai perlambang kesucian, kebenaran, kejujuran dan ketulusan (sohaliapan, sohapurpuran),  juga simbol kosmologi Banua Ginjang (dunia atas)
  • Merah sebagai perlambang kekuatan (hagogoon) dan keberanian, simbol Banua Tonga (dunia tengah).
  • Hitam  sebagai perlambang kerahasiaan (hahomion), kewibawaan  dan kepemimpinan, simbol Banua Toru (dunia bawah) 

 

SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA

 SUKU BATAK KETURUNAN DEWATA

Diagram: Manusia Pertama Batak di Banua Ginjang

Suku Batak adalah keturunan Dewata, demikian menurut turi-turian Batak. Bermula dari mitologi kelahiran manusia pertama (Batak) di Banua Ginjang, atas kuasa Sang Maha Pencipta, Ompu Mulajadi Na Bolon, yakni, laki-laki dari dari 3 (tiga) butir telur dan perempuan dari 3 (tiga) ruas bambu yang diasuh oleh Manuk Patiaraja (Hulambujati) dan Manuk Mandoangmandoing. Di beberapa literatur, tidak dijelaskan adanya manuk Mandoangmandoing hanya Manuk Patiaraja (Hulambujati).

Manusia pertama ini tinggal di Banua Ginjang (surgaloka), dan mereka adalah Debata (Dewata) [1],yaitu: Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan. Ompu Mulajadi Na Bolon kemudian menjadikan pasangan hidup dan pendamping yang sepadan dari ruas bambu, yakni S. Parmeme, S. Parorot dan S. Panuturi.  Dari pernikahan tersebut, lahirlah keturunan putra dan putri sebagaimana diuraikan pada diagram.

Putra O.T. Soripada yaitu Raja Indapati alias Raja Endaenda menikah dengan putri O.T. Batara Guru, Siboru Deang Parujar, lahirlah Raja Ihat Manisia [2a].  Generasi  berikutnya berturut-turut adalah Raja Miok-miok - Eng Banua - Eng Domia (Raja Bonang-bonang) - Raja Tantan Debata dan Si Raja Batak (lihat dan klik Silsilah Si Raja Batak).

Pada awalnya Siboru Deang Parujar tidak bersedia dinikahkan dengan Si Raja Enda-enda.  Pengingkaran akan ini, maka manusia tidak lagi hidup bersama Dewata di Banua Ginjang tetapi tinggal di Banua Tonga. Suratan kehidupan, dan "sudah berjodoh" akhirnya Raja Endaenda menikah dengan Siboru Deang Parujar.[2b]

Tentu saja bahwa "Suku Batak Keturunan Dewata" tidak diartikan secara harfiah begitu saja, dan bukan sikap superioritas Batak atas kesukuannya. Ada nilai-nilai dalam bentuk perandaian (partudosan) seperti telah diuraikan pada makna di balik Mitologi Batak (klik di sini). Turi-turian tersebut merupakan bentuk pesan moral, nasihat dan didikan kepada keturunan Batak dalam menghormati, menghargai leluhur bersikap terhadap orang tua.

Kini dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, dan juga dalam syair lagu Batak masih terdapat istilah : "orang tua (Ayah dan Ibu atau Daamang dohot Dainang) adalah debata na ni ida atau debata na tarida (dewata yang dilihat, dewata yang tampak), atau "daamang da inang i do debata na ni ida".

Dengan demikian, Debata juga dimaknai sebagai panggilan atau gelar penghormatan oleh Suku Batak disamping Ompu atau Ompung.[3]

_______________

Cerita Tentang Guru Mangaloksa

  Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea    4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....