Kamis, 18 Juni 2020

RAJA LOTUNG

Dari beberapa artikel atau tulisan yang pernah penulis baca, ada beragam versi cerita tentang SI RAJA LONTUNG, namun pada dasarnya hampir bersamaan hanya peletakan ataupun urutan dalam "tarombo" atau silsilah yang ada perbedaan. Berikut ini adalah kisah atau legendanya :

Si RAJA BATAK mempunyai 2 (dua) orang keturunan,  yakni Guru Tatea Bulan dan Raja Sumba (Isumbaon). Selanjutnya dari keturunannya Guru Tatea Bulan ini mempunyai 5 (lima) putra dan 4 (empat)  putri yaitu :
  1. Raja Biak-biak (putra)
  2. Tuan Saribu Raja (putra)
  3. Siboru pareme (putri)
  4. Limbong Mulana (putra)
  5. Siboru Paromas (putri)
  6. Sagala Raja (putra)
  7. Siboru Biding Laut (putri)
  8. Malau Raja (putra)
  9. Nan Tinjo (putri)
Setelah putra - putri dari Raja Isumbaon bertumbuh dewasa, serta masih langkanya manusia maupun tempat tinggal yang terisolasi antara satu perkampungan dengan perkampungan lain sangat jauh, tanpa disadari menyebabkan terjadinya hubungan INCEST (perkawinan satu darah). Hubungan atau perkawinan incest ini terjadi antara Tuan Saribu Raja dengan Si Boru Pareme.

Setelah sekian lama hubungan ini terjadi menjadikan Si Boru Pareme mengandung/ hamil dan hal ini menjadikan aib dalam keluarga turunan Raja Isumbaon. Dalam adat dan kebudayaan Batak hal ini adalah TABU dan DILARANG KERAS, maka hukumannya adalah MATI.

Melihat aib ini saudara/ saudari dari Tuan Saribu Raja dan Si Boru Pareme merasa marah dan berniat untuk menghukum mati kedua saudara/i nya itu. Namum ternyata tak satupun dari mereka yang mampu/ tega untuk menghukum mati. Akhirnya di putuskanlah untuk membuang mereka ke hutan secara terpisah.

Si Boru Pareme pun dibuang ke sebuah hutan di atas Sabulan sekarang, satu daerah yang dianggap sebagai sarang harimau. Biarlah harimau itu yang membunuhnya, kalau tidak mati akibat kelaparan dan deritanya sendiri, begitulah pikiran Limbong Mulana dan adik-adiknya.

Suatu ketika, Siboru Pareme yang sudah hamil tua dan kesepian ini, dikejutkan oleh seekor harimau yang mengaum mendekatinya. Namun karena sudah terbiasa melihat harimau dan penderitaan yang dialaminya, ia tidak takut lagi dan pasrah untuk di mangsa. Setelah menunggu beberapa saat, ternyata harimau itu tidak memangsanya. Harimau tadi membuka mulutnya lebar-lebar dihadapan Siboru Pareme seakan meminta bantuan. Dari jarak dekat Siboru Pareme melihat ada sepotong tulang yang tertancap di rahang harimau itu. Timbul rasa iba dihati Siboru Pareme. Tanpa ragu Siboru Pareme mencabut potongan tulang itu dan di buangnya. Setelah itu harimau yg dikenal buas itu menjadi jinak kepada Siboru Pareme. Sejak itu harimau yang dikenal BABIAT SITELPANG setiap pagi dan sore mengantar daging hasil buruannya ketempat Siboru Pareme. Budi baik yang diterimanya dari wanita yang sedang hamil tua itu menumbuhkan rasa sayang BABIAT SITELPANG yang diwujudkannya dengan tetap menjaganya hingga melahirkan seorang putra dan diberilah namanya SI RAJA LONTUNG.

Si Raja Lontung hidup dan bertumbuh dewasa bersama ibunya ditengah hutan sekitar Ulu Darat selalu didampingi oleh BABIAT SITELPANG. Tidak seorang pun manusia lain yang mereka kenal. Namun Siboru Pareme selalu memberi pengetahuan kemasyarakatan kepada anaknya termasuk partuturan adat batak karena ibunya tidak ingin anaknya itu menderita lagi seperti aib yang diterimanya selama ini.

Setelah SIRAJA LONTUNG beranjak dewasa dan sudah bisa menikah, ia bertanya kepada ibunya di mana kampung tulangnya. Ia sangat berniat menikah dengan putri tulangnya (paribannya). Siboru Pareme merasa sedih mendengar hal itu, hatinya gusar, kalau diberitahu yang sebenarnya. Ia takut tulangnya akan membuang dan membunuh anaknya itu, Siboru Pareme selalu berupaya mengelak dari pertanyaan anaknya. 

Namun karena tidak ingin anaknya menjadi korban kemarahan tulangnya dan Siboru Pareme yakin dan tahu bahwa Si Raja Lontung tidak dapat menemukan seorang perempuan jadi isterinya di hutan itu, niscaya dia akan mati lajang tanpa keturunan, ia pun mengorbankan dirinya untuk dikawini anak kandungnya sendiri, akhirnya Siboru Pareme membuat siasat. 

Pada satu saat yang baik Siboru Pareme menyerahkan cincinnya pada Si Raja Lontung dengan pesan "Pergilah ke tepian yang ada di kejauhan sana. Tunggulah disana hingga paribanmu turun mengambil air. Dia mirip sekali dengan saya hingga sulit dibedakan. Pasangkan cincin ini pada jarinya dan cincin ini pun harus pas betul. Bila hal ini telah terbukti bujuklah dia menjadi isterimu". Selanjutnya Siboru pareme menerengkan jalan berliku yang harus ditempuh anaknya. 

Si Raja Lontung pun berangkat menapaki jalan berliku seperti yang telah dirunjuki oleh ibunya. Sementara itu si Boru Pareme pun bernagkat ke tepian yang sama. Dia mengambil jalan pintas agar dapat mendahului anaknya. Setibanya disana dia pun mendandani dirinya sedemikian rupa hingga nampak lain dan lebih muda. pada hari anaknya tiba, dia sudah siap.


Si Raja Lontung pun tiba di tempat seperti yang dipesankan ibunya itu. Ia mendengar ada manusia tengah mandi di pansuran itu. “Berarti benar apa yang diberitahu ibuku”, katanya dalam hati, sambil mengintip dari celah-celah pohon. Ia tidak sabar terlalu lama lagi, karena hari sudah gelap dan langsung menghampiri perempuan tersebut.

“Bah benar juga yg dibilang ibuku, tidak ada ubahnya seperti dia”, katanya dalam hati. “Santabi boru ni tulang, saya ingin menyampaikan pesan ibuku”, kata Si Raja Lontung dan menggapai tangan perempuan itu serta meremas jemari perempuan yang disebut paribannya itu, dan menyelipkan cincin ibunya ke jari manis dan ternyata pas. “Berarti tidak salah lagi, kaulah paribanku itu. Wajahmu seperti ibuku dan cincin ibuku cocok dijari manismu,” lanjutnya merasa yakin. Lalu ia mengajak perempuan tersebut untuk dijadikan istrinya dan memperkenalkannya kepada ibunya.

Sesampainya di hutan tempat tinggal SIRAJA LONTUNG, ia terkejut sebab ibunya tidak lagi di jumpai di rumahnya. Ia pun teringat akan pesan ibunya yang berniat mencari ayahnya SARIBU RAJA kearah Barus. Keduanya hidup serumah dan menjadi suami istri, (maka bagi Si Boru Pareme terjadi lagi kawin sumbang atau INCEST yang kedua kali).

Dari hasil perkawinan Si Raja Lontung dan Si Boru Pareme melahirkan turunan sebagai berikut :
  1. Ompu Tuan Situmorang (putra)
  2. Sinaga Raja (putra)
  3. Pandiangan (putra)
  4. Nainggolan (putra)
  5. Simatupang (putra)
  6. Aritonang (putra)
  7. Siregar (putra)
  8. Siboru Amak Pandan (putri) kawin dengan Sihombing dan
  9. Siboru Panggabean (putri) kawin dengan SIMAMORA.
Ketujuh putra ini kemudian menurunkan marga-marga berikutnya. satu hal yang unik ialah bahwa ketujuh marga Lontung ini tidak merasa puas bila tidak menyertakan kedua boru itu dalam bilangan dan kelompoknya. Inilah cikal bakal sebutan “Lontung Sisia Sada Ina Pasia Boruna Sihombing - SIMAMORA. Kalau dari Si Raja Lontung (namarpariban), maka Sihombing lebih tua, tetapi karena Simamora dan Sihombing abang-adik kandung, maka Simamora lah yang tertua.

HARIARA PASARIBU - LUBIS

Di Lumbanrau-Parsoburan dijalan menuju ke Onan Borbor ada dua pohon yang sangat besar (Berigin) yang tumbuh berseberangan dipisahkan oleh jalan raya, orang sekitar menyebutnya hariara Pasaribu dan hariara Lubis, konon katanya kedua pohon ini menjadi perlambang parpadanan antara marga Pasaribu dan marga Lubis .Kedua marga ini telah bersumpah untuk tidak saling mengikat tali perkawinan antara kedua marga tersebut kecuali cabang atau ranting kedua pohon itu bisa bersatu.
Dan memang sepanjang yang saya dengar, walaupun jarak antara kedua pohon itu hanyalah dipisahkan oleh jalan raya yang lebarnya tidak lebih dari 6 meter, cabang dan ranting pohon (hariara) tersebut belumlah sekalipun pernah bersentuhan ,yang anehnya apabila salah satu cabang atau ranting pohon mendekati pohon yang satunya niscaya cabang atau ranting tersebut akan rontok atau patah, sebuah keanehan memang tapi itulah yang terjadi, anda penasaran untuk melihat silahkan datang ke Lumbanrau – Parsoburan – Habinsaran.

SAHANGMAIMA DAN DATU DALU

Sahang Maima dan Datu Dalu adalah keturunan ke-9 dari Si Raja Batak. Mereka berdua bersaudara. Mereka memiliki sebuah tombak warisan leluhur mereka yang dijaga oleh Sahang Maima. Suatu hari Datu Dalu meminjam tombak tersebut untuk membunuh seekor babi hutan yang sering merusak kebun miliknya. Sahang maima lalu meminjamkannya dengan catatan jangan sampai rusak.
Lalu berangkatlah Datu Dalu berburu babi hutan tersebut ke dalam hutan. Dia menghujamkan tombak tersebut ke tubuh Babi hutan itu. Sayangnya babi hutan itu tidak mati. Dia berhasil kabur dengan mata tombak menancap di tubuhnya.
Datu dalu bingung kemana harus mencari babi hutan tersebut. Sebab ia harus mencabut mata tombak tersebut sebelum mengembalikannya kepada saudaranya. Setelah lelah mencari namun tidak juga ketemu, akhirnya ia memutuskan untuk membuatkan mata tombak yang baru.
Sahang Maima merasa kalau Datu Dalu terlalu lama mengembalikan tombaknya. Dia lalu menemui Datu Dalu. Datu Dalu lalu menjelaskan kalau mata tombak itu terlepas dari gagangnya dan menempel di tubuh babi yang ia buru. Dan dia telah membuatkan mata yang baru sebagai gantinya. Tapi ternyata Sahang Maima tidak bisa terima.
“Barang itu tidak bisa hilang. Sebab itu adalah barang warisan.” Begitu alasan Sahang Maima.
“Saya tahu, bang. Tapi tombak itu kan sudah tua, kayunya sudah lapuk dan mata tombak itu sudah tidak menempel dengan kuat lagi. Wajarlah jika mata tombak itu terlepas.”
“Tidak boleh begitu. Barang yang kamu pinjam, itu yang harus kembali. Tidak boleh diganti dengan barang apapun. Bagaimana barang  itu kamu pinjam, begitu pula barang itu harus kembali.” Kata Sahang Maima bersikeras.
Akhirnya Datu Dalu mengalah. Ia lalu pergi mencari babi hutan tersebut. Menurut cerita yang banyak dituliskan dalam buku-buku dan kitab sejarah orang batak, Datu Dalu turun ke Banua Toru untuk mencari petunjuk tentang keberadaan mata tombak itu.
Disana ia bertemu dengan seorang Gadis penumbuk padi yang sedang bertengkar dengan seorang wanita. Gadis penumbuk padi ini tidak sengaja membunuh ayam milik wanita ini ketika ia mengusir ayam tersebut. Wanita pemilik ayam tidak terima. Dia meminta gadis penumbuk padi ini untuk mengembalikan ayam itu dalam keadaan hidup. Gadis penumbuk padi itu menolak karena merasa permintaan si wanita tidak masuk akal.
Datu dalu lalu menghampiri gadis penumbuk padi itu. Datu dalu berjanji akan menolong si gadis penumbuk padi itu jika ia bersedia membantu Datu Dalu.
“Saya sedang mencari seekor babi hutan. Beberapa hari yang lalu saya menombaknya. Tetapi mata tombak saya tertinggal dan menempel di tubuhnya. Bisakah anda membantu saya mencari tahu dimana babi hutan itu berada ?”
“Di sana, di rumah yang berada di ujung desa itu, ada seorang nenek tua yang terluka terkena mata tombak. Kau bisa mendapatkan mata tombak mu disana.” Kata si gadis itu.
“Tapi yang saya tombak itu adalah babi hutan, bukan manusia.”
Lalu si gadis itu menjelaskan kalau nenek tua itu adalah siluman jahat yang bisa berubah menjadi apapun.
“Baiklah kalau begitu” kata si Gadis penumbuk padi. “Saya sudah membantu tuan, sekarang tolong buktikan kalau tuan bisa menepati janji tuan.”
Dengan kemampuan sihir yang dimilikinya, Datu Dalu berhasil menghidupkan kembali ayam tersebut. Setelah itu si Gadis penumbuk padi bersedia mengantarkan Datu Dalu ke rumah nenek tua itu. Disana Datu Dalu baru yakin kalau ternyata benar mata tombak yang menempel di tubuh nenek itu adalah mata tombak milik abangnya. Datu dalu kemudian mencabut mata tombak itu menggunakan sambilu. Sebelum pergi, Datu Dalu mengobati nenek tua itu. Sebagai balasannya nenek tua itu berjanji tidak akan pernah mengganggu desa Datu Dalu lagi. Akhirnya Datu Dalu berhasil mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya. Dan sejak itu hubungan antara mereka mulai retak.
Suatu hari Sahang Maima sedang melakukan pesta di desanya. Istrinya pergi ke pasar melintasi kebun milik Datu Dalu. Ketika berada di kebun Datu Dalu, hujan deras turun. Istri Sahang maima lalu memotong selembar daun pisang untuk digunakan sebagai payung.  Datu Dalu yang mengetahui hal tersebut marah besar lalu meminta istri Sahang Maima untuk mengembalikan daun pisang tersebut ke pohonnya seperti semula. Mendengar ucapan Datu Dalu, Sahang Maima berang.
“Aku tahu kamu dendam. Tetapi jika kau marah janganlah marah kepada istriku.” Kata Sahang Maima
“Bukankah abang yang bilang, barang yang diambil harus kembali seperti semula?” Kata Datu Dalu.
Maka terjadilah perang terbuka antara mereka berdua. Sahang Maima menerbangkan 7 tampi ke arah desa Datu Dalu. Mendengar suara menderu di langit, Datu Dalu mempersiapkan pertahanan. Dengan kemampuan sihirnya, ia menolak tampi-tampi itu dari desanya sehingga tidak ada satupun lesung yang jatuh di desanya. Datu Dalu kemudian membalas dengan menerbangkan 14 Alu (Andalu) ke arah desa Sahang Maima. Sahang Maima berhasil menolak seluruh Andalu tersebut sehingga semuanya jatuh di luar desanya.
Sahang Maima kembali melakukan perlawanan. 7 batang kayu  api yang membara (sipu – sipu) diterbangkan untuk membumihanguskan desa Datu Dalu. Namun ternyata Datu Dalu berhasil menyingkirkan sipu-sipu itu sehingga tidak membakar desanya. Berikutnya Datu Dalu membalas dengan menerbangkan 14 sipu-sipu ke arah desa Sahang Maima namun juga berhasil ditolak.
Kemudian Sahang Maima menerbangkan 7 piring berisi serbuk beracun. Datu Dalu berhasil menghalaunya sehingga tidak jatuh di desanya. Datu Dalu lalu membalas dengan 14 piring berisi serbuk beracun. Tapi Sahang Maima berhasil menyingkirkannya.
Puncaknya Sahang Maima menerbangkan Lesung dengan sayap 7 tampi dan 7 piring berisi serbuk beracun ke arah desa Datu Dalu. Datu Dalu sendiri membalas dengan menerbangkan Lesung tujuh lobang berisi serbuk beracun dan bersayap 14 tampi. Kedua senjata mereka bertarung di langit menimbulkan suara gemuruh yang sangat memekakan telinga.
Kedua lesung tersebut kemudian jatuh. Satu jatuh di desa Sahang Maima dan satu lesung jatuh di Desa Datu Dalu. Seluruh warga yang panik lari berhamburan dari desa menyelamatkan diri. Serangan itu menimbulkan cekungan yang sangat besar di desa mereka. Warga sekitar menyebutnya ambar. Mereka menamainya Ambar Silosung dan Ambar Sipinggan. Sekarang ambar tersebut dapat ditemui di Lintong ni Huta, sebelah kiri Jalan Raya Siborong-borong – Dolok sanggul. Ambar Sipinggan berada di sisi kiri jalan sedangkan Ambar Silosung berada di sebelah kanan jalan.

SISULUNG OP RAJA UTI

Beribu tahun sudah pemandangan di sekitar Danau Toba, Sumatra Utara, teramat memanjakan mata.
Beribu tahun pula di dan sekitar Danau Toba ini satu misteri sejarah menyimpan kisah tersendiri bagi etnis Batak. Pusuk Buhit, tepatnya, di Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir diyakini sebagai tempat asali etnis Batak berakar dan bertunas, tumbuh dan berkembang.
Catatan sejarah banyak menuliskan Pusuk Buhit, asal mula leluhur orang Batak. Sekitar abad XII keturunan pertama kali orang Batak yang bernama Siraja Batak singgah di wilayah Toba Samosir.
Nenek moyang Batak, Siraja Batak memiliki anak yang bernama Guru Tatea Bulan (Ilontungan) dan Raja Isumbaon (Sumba).
Siraja Batak—+-1 Guru Tatea Bulan
|
+-2 Raja Isumbaon
Lahir sebagai sulung, Guru Tatea Bulan, oleh sebagian warga suku Batak sebagai leluhur yang suci. Diriwayatkan, Guru Tatea Bulan mempunyai lima orang anak, yakni, Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja.
Guna mengenang, di puncak Pusuk Buhit, patung-patung perlambang silsilah Guru Tatea Bulan dan anak-anaknya dibangun.
Sebagian orang Batak percaya bahwa Raja Uti sering singgah di lokasi yang bernama Batu Sawan. Di Batu Sawan-lah diduga mengalir air yang sering dijadikan pemandian dan ritual kepercayaan adat Batak. Orang Batak yang tinggal di daerah itu menyebutnya sebagai “air berkah”.
Si Sulung, Raja Uti
Dalam catatan turi-turian (legenda/mitos) dan keyakinan sebagian keturunan Batak, anak Sulung Guru Tatea Bulan yang paling memiliki kesaktian adalah Raja Uti.
Si Sulung keturunan Guru Tatea Bulan ini dikenal dengan banyak sapaan atau gelar oleh masyarakat Batak.
Raja Biak-biak, dengan nama raja Gumelenggeleng. Si sulung keturunan Guru Tatea Bulan, seorang yang cacat yang tidak punya tangan, dan kaki. Karena kondisi tubuhnya itu, si sulung tak bisa duduk.
Berdasarkan turi-turian, Raja Gumeleng-geleng merasa berkecil hati di hadapan adik-adiknya yang berbeda dengan kondisinya.
Sebagian orang Batak berkata, dia punya sayap makanya disebut namanya Tuan Rajauti, raja yang takkan pernah mati, raja yang takkan pernah tua.
Turi-turian Batak menyebutkan pesisir Fansur atau kadang lazim disebut Barus sekarang ini menjadi tempat Raja Uti tinggal berikutnya.
Raja Uti terkenal sangat sakti ujudnya pun berubah hingga 7 kali. Berikut dikutip dari blog Manik mengenai 7 kali perubahan wujud dirinya:
“Wujud pertama ompung Raja Uti adalah tidak punya tangan, tidak punya kaki (Patung rupa Raja Uti dapat dilihat di pusuk buhit).
Yang menarik dari ketujuh patung tersebut ada 2 patung yang memakai bonang manalu (merah-putih-hitam) warna khas kosmologi batak. Dulu orang yang memakai tali-tali bonang manalu menandakan bahwa ia seorang Parbaringin.
Sebelah kanan ada pohon beringin yang artinya berketurunan lengkap (saur matua) dan Baringin tersebut merupakan gambar atau simbol pengayoman atau panggomgom yang dinamai ‘hariara sundung di langit’ alana daompung ido nampuna HARIARA SUNDUNG DILANGIT dan sebelah kiri Cawan menggambarkan Mulani pangurason nasohaliapan, nasohapurpuran, napituhali malim napitu hali solam.
Ada rentetan cerita yang sangat panjang sampai akhirnya Debata Mulajadi Nabolon MANONGOS / menurunkan UTE TUBU (pangir), DAUPA (pohon Hamijon/kemenyan), DAN DEMBAN TIAR (sirih).
Ketiga hal yang disebutkan diatas memiliki keterikatan / hubungan penggunaan yang tidak bisa dipisahkan (bagi orang yang mengerti).
Kalau untuk Bona ni JAJABI / pohon beringin dipakai oleh raja2 (yang sekarang disebut dgn RAJA BIUS) untuk tempat PARTUKOAN (rapat/ pertemuan) dalam membahas sesuatu permasalahan.
Sebelah kanan ada dua patung yang memakai ulos warna putih, disini janggal keliatannya sebab jarang sekali ulos berwarna putih polos. Ulos juga memakai tiga warna khas batak. Biasanya warna/motif pada ulos juga memberikan ciri dari kelompok dalihan natolu yaitu kelompok hula-hula lebih banyak hitamnya dairpada warna putih & merah, sedangkan untuk dongan tubu lebih banyak putihnya daripada warna hitam & merah dan terakhir kelompok boru lebih banyak warna merahnya daripada warna putih & hitam.
Sebagai keturunan pertama dari Ompu Guru Tatea Bulan, Op.Raja Uti meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke Pusuk Buhit demi memohon kepada Mula Jadi Nabolon agar boleh dia dijadikan menjadi raja diantara saudara-saudaranya karena dia adalah putra yang sulung dan pertama keluar dari rahim ibunya, jadi pantaslah dia yang menjadi raja.
Kemudian lanjutnya, “tapi apa dayaku sebagai orang tak sempurna sebagai manusia yang selalu dianggap remeh oleh saudara-saudaraku.”
Mulajadi Nabolon mengabulkan permintaan Gumellenggelleng dan seketika tubuh Gumellenggelleng berubah menjadi manusia yang sempurna yang memiliki kaki dan tangan bertumbuh normal. Lalu dia diberi kuasa oleh Mulajadi Nabolon menjadi orang sakti yang disebut namanya menjadi Raja Biakbiak.
Setelah Gumellenggelleng disempurnakan menjadi perkasa sebagai Raja Biakbiak maka Mulajadi Nabolon kemudian pergi ke tahtahnya melalui Pusuk Buhit, dan jadilah Biakbiak menjadi raja pertapa sakti.
Setelah sekian lama dalam pertapaannya, Raja Biakbiak dengan percaya diri turun dari Pusuk Buhit hendak menjumpai orangtuanya dan saudara-saudaranya dan membayangkan bahwa dia akan disambut oleh keluarga itu sebagai raja karena dia sebagai anak yang tertua dan lagipula dia telah menjadi manusia sempurnah dan sakti. Anggapan itu ternyata meleset dan dia menjumpai keluarganya sudah berantakan bercerai berai karena ulah Sariburaja dan Siboru Pareme yang berbuat cinta terlarang. Raja Biakbiak tidak menjumpai lagi Siboru Pareme kembarannya dan demikian juga Sariburaja adiknya tak terlihat lagi karena sudah terusir dari kampungnya.
Karena dia merasa sangat kecewa bahwa keluarga keturunan ayahnya sudah berantakan dan bercerai berai, maka dia pergi ke Singkil.
Raja Biakbiak, walaupun bertubuh kate tetapi dia memiliki tubuh sempurna dan memiliki kesaktian tinggi sehingga raja-raja setempat mempersembahkannya istri. Kekuasaannya kemudian membentuk sebuah kerajaan Batak dan dia digelari sebagai Raja Uti karena memiliki utiutian dari Mulajadi Nabolon sebagai kesaktiannya. Kekuasaannya berkembang di Singkil, Kluet dan sampai ke Barus yang ramai dengan perdagangan. 

RAJA HATORUSAN II

Setelah Siraja Iborboron dewasa dia pun menikah dengan boru Jau. Tidak lama kemudian isterinya pun hamil dan setelah tiba waktunya melahirkan seorang anak yang masih terbalut ari-ari bulat seperti mellon (marbalutan/martastasan). Setelah balutannya dibuka ternyata laki2 dan karena dia lahir masih dalam balutan maka dia digelar "Hobalbaluton" Kemudian Siraja Iborboron mencari nama untuk dia dan kemudian dia teringat pesan Raja Hatorusan (Raja Uti) kepada Bapaknya Sariburaja, supaya ada keturunannya yang mengambil kerajaannya, maka anaknya itu diberi nama "Raja Hatorusan  Ternyata kemudian Raja Hatorusan II menjadi Datu terkenal dan terhormat (Datu Bolon) mempunyai ilmu yang luar biasa. Dia bisa memasang aji2 pompang bala saribu tulak bala saratus. Dia punya wibawa (sahala) dan sakti sehingga orang menggelarinya Tuan Balasahunu" Raja Hatorusan II kemudian kawin tetapi isterinya tidak begitu diketahui, ada yang bilang br Hasibuan dan anaknya ada 5 orang:. 
1Anak sulung, namanya: Ompu Tuan Raja Doli yang juga bergelar Datu Tala Dibabana. Setelah ayahnya meninggal dia meninggalkan Pariksabungan untuk mencari lahan yang lebih subur. Tetapi kemudian adik2nyapun pindah dari Pariksabungan, kemungkinan pada waktu sedang musim perpindahan ke daerah2 yang pada saat itu masih belum banyak penghuninya. Cerita mengenai Datu Tala Dibabana akan diceritakan kemudian.

2 Anak kedua bernama "Datu Rimbang" yang kemudian pindah ke daerah Sarinembah.

3 Anak ketiga bernama "Datu Altong" (Altokniaji) yang kenudian pindah ke tanah Karo, masuk marga Kacaribu kawin dengan br. Tompul Sipurpuron.

4 Keempat Ompu Sahangmataniari, yang pindah ke Toba Parhabinsaran, dari situ kemudian pindah ke Bandarpulo terus ke Pane dekat Asahan. Anaknya Raja Margolang, tulangnya Raja Nagaisori, anaknya Sipongki Nangolngolan yang menjadi Tuanku Rao, Raja Nagaisori pergi bersama pembantu Sipakpakhunal membawa kerbau si sapang naualu, untuk meminang boru tulangnya Raja Margolang. Keturunan Raja Margolang kemudian menjadi marga "Simargolang.

5 Anak bungsu (siampudan) bernama "Ompu Sindar Matanibulan" yang juga bergelar "Datu Mombang Napitu" beristri br Tompul Sipurpuron (Isteri I), itulah Ibu dari Simarimbunbulubosi yang tinggal di Sibaragas Sipultak. Isteri II br Harondang Pane yang melahirkan anak kembar 7, tetapi kemudian semuanya meninggal. Setelah Raja Hatorusan II wafat dia dimakamkan di parbandaan Rianiaten dekat kuburan Ayahnya Siraja Iborboron dan Guru Tateabulan.
Ke lima anak Ompu Rajadoli pergi meninggalkan Dongdong tetapi masing2 berbeda arah.

1. Anak sulung Sariburaja II, ada Torsa tersendiri setelah ini.

2. Anak kedua Sipahutar pindah ke arah Parparean, ada satu anaknya yang bernama Matasopiaklangit. Matanya hanya satu di tengah-tengah alis matanya, besarnya sama dengan alat pukul ogung. Penglihatannya sangat tajam.... Dia bisa melihat burung yang hinggap. Di ujung pohon di atas gunung. Jika ia memandang ke arah langit, dia bisa mengetahui kapan hujan datang. Mereka kemudian pindah ke Parsambilan, abak perempuannya kawin dengan marga Sitorus Pane yang ada di sana. Ada empat anak Matasopiaklangit, yang sulung pindah ke Bandarpulo, yang kedua ke arah Pagarbatu, yang ketiga ke arah Parsingkaman dan yang keempat ke arah Padangbolak.

3. Anak ketiga Siraja Hatioran/Datu Singa, keturunannya jadi marga Harahap. Dia berangkat bersama Sariburaja II ke Janjimatogu bersama adiknya Siraja Tanjung. Kemudian mereka pindah lagi ke arah Parparean. Dari situlah Sariburaja II bersampan ke Sigumpar; kalau Raja Hatioran dia pergi ke arah Habinsaran dan dari situ terus ke arah Pangaribuan terus ke Silantom terus ke Angkola. Mereka di sana jadi Rajahuta dan punya lahan yang luas.

4. Anak keempat Siraja Tanjung dari Janjimatogu terus ke Labuhole Habinsaran. Yang lainnya pergi ke arah Silindung sampai ke Barus dan yang lainnya lagi pergi ke arah Angkola.

5. Anak kelima Ramberaja, kembali ke arah Sianjurmulamula, tetapi kemudian pergi lagi dari situ ke arah Barus. Keturunannya menjadi marga Rambe. Kemudian mereka menyebar di Barus, Singkil, Dairi sampai ke daerah Langkat.
 Anak perempuan satu-satunya yang bernama Siboru Hutahot kawin dengan Raja Mangarerak seperti diceritakan di atas yang datang dari Harianboho Pangoruran. Mereka diberi perkampungan di Sibisa sama mertuanya Datu Talaibabana. Tetapi sesudah Datu Talaibabana. Semakin tua dia memberikan perkampungannya Dongdong bersama semua sawah dan kebun2nya kepada menantunya/borunya karena tidak ada lagi anaknya yang tinggal dekatnya.

Cerita Tentang Guru Mangaloksa

  Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea    4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....