Kamis, 01 Oktober 2020

HARAJAON BATAK (KERAJAAN BATAK)

 Kerajaaan (Harajaon) Batak berbentuk "state" (negara) dengan struktur pemerintahan dan tata aturan seperti negara-negara modern telah ada, bahkan sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit.  Pada masa itu nama kaum penduduknya belum dikenal sebagai "Batak." [1]  Harajaon Batak pertama dipimpin oleh seorang yang bernama Tuan Sori Mangaraja, leluhur Si Raja Batak.  


Dari penelusuran sejarah dan beberapa sumber informasi, di mana letak dan tahun berdirinya kerajaan Batak pertama ini masih menjadi polemik.  Apakah di sepanjang Pantai Timur atau Pantai Barat Sumatera bagian Utara, atau di wilayah perbatasan Aceh (sekarang), atau di suatu tempat di daratan Asia, seputar tahun kejayaan kerajaan nusantara, Sriwijaya.   Kerajaan Batak ini tidak bertahan akibat suatu konflik dan politik pada masanya. Keturunannya dan para pengikutnya memilih hijrah ke daerah baru,  Pusuk Buhit.  Wilayah ini sangat strategis, berada di pegunungan yang dari puncaknya dapat mengawasi keadaan sekitar, tempatnya subur dan banyak sumber air. 

Pemulihan kerajaan memerlukan waktu, Si Raja Batak telah uzur, harus menyerahkan amanah kepada generasi berikut.  Amanah kerajaan diberikan kepada Raja Isumbaon (Raja yang disembah), bukan kepada putra pertama Guru Tatea Bulan.  Hal ini tampak pada pembagian warisan, yaitu pusaka Pustaha Tumbaga Holing (Kitab Tumbaga Holing) yang berisi berisi tentang: patik dohot uhum habatahonharajaon, partiga-tigaan (titah dan hukum Batak, aturan kerajaan dan tata perniagaan) [2] kepada Raja Isumbaon  sementara Guru Tatea Bulan mewarisi  Pustaha Laklak, yang berisi tentang pernujuman, ilmu perdukunan dan bela diri (parhalaan, hadatuon, parmonsakan).  

Guru Tatea Bulan sebenarnya berharap dapat memegang amanah kerajaan, tetapi persoalan internal putra-putrinya sangat pelik.  Putra pertamanya, Raja Gumeleng-geleng lahir, tidak sempurna wujud fisiknya, dan terkucil dari saudara-saudanya.  Atas permintaannya ia diantar oleh ibunya ke suatu tempat di lereng Pusuk Buhit.  Harapan kemudian jatuh kepada putra kedua yang diberi nama Sariburaja. Nama "Sariburaja" boleh jadi berasal dari Sriwijaya, dalam bahasa Sanskrit yaitu “Shri Vijaya atau Shri Bhoja yaitu Srivijaya.”  Artinya: Shri = bersinar atau berkilau, Vijaya = kemenangan atau keunggulan. Namun Saribujaya akhirnya terusir dari keluarga karena perbuatan incest dengan saudarinya  Siboru Pareme [3].

Raja Isumbaon melanjutkan proses restrukturisasi kerajaan, dan dilanjutkan oleh putranya  yang bernama Tuan Sori Mangaraja. Nama Sori Mangaraja ini seperti nama leluhurnya, berasal atau identik dengan Sri Maharaja (Sri Maharaj). Sampai di sini rangkaian tugas membangun dinasti kerajaaan Batak "terputus."   Justru dari generasi Guru Tatea Bulan, Raja Uti  "mendapatkan wahyu dan kesempurnaan.”  Ia memilih pergi ke wilayah ujung Aceh --atau Manduamas, Barus atau pulau di seberang Barus--. dan membangun kerajaan. Kerajaan ini berjaya dipimpin oleh Raja Uti Mutia Raja I sampai dengan VII. 

Dinasti Kerajaan Batak di bawah Raja Uti, beralih kepada Sisingamangaraja.  Sisingamangaraja I (Raja Manghuntal, --sumber lain menyebut Raja Mangkuta--) membangun Kerajaan Batak (Harajaon Batak) berkedudukan di Bakara, berlanjut hingga Sisingamangaraja XII, dengan sendi-sendi tata aturan "negara" Kerajaan

SIPELEBEGU

Sipelebegu, Pelebegu atau Hasipelebeguan berasal dari kata “pele” dan “begu”Pele artinya memberikan sesaji, sedangkan begu adalah roh.  Sipelebegu adalah pelaku kegiatan "pemberian sesaji"  kepada roh baik berupa  makanan, minuman atau sesuatu benda ke makam-makam, pohon besar, juga ke tempat yang diyakini keramat (sakral) atau angker (seram, menakutkan). Pelebegu atau Mamele Begu =  kegiatan pemberian  sesaji. Hasipelebeguan adalah hal-hal tentang pemberian sajen atau sesajen (pelean) kepada roh-roh. "Pelean" pemberian atau sumbangan, berasal dari kata "lean" = beri, berikan, sampaikan. 


Sipelebegu, Pelbegu, Hasipelebeguan bukan sebagai suatu aliran kepercayaan Batak, dan bukan sebagai agama di kalangan Suku Batak kuno. Suku Batak kuno sering dikatakan sebagai Sipelebegu karena kegiatan pemberian persembahan berupa sesaji yang ditujukan kepada roh-roh dalam suatu ritual.
   
Agama Batak Kuno disebut "Malim" dan penganutnya "Parmalim," menganut kepercayaan monotheisme percaya dan menyembah Ompu Mulajadi Nabolon, Sang Maha Pencipta sebagai Tuhan Yang Maha Esa.*)   
__________________

SIBORU DEANG PARUJAR MENAKLUKKAN NAGA PADOHA

MITOLOGI: LAHIRNYA MANUSIA PERTAMA "BATAK" (VI) 


Siboru Deang Parujar mulai khawatir bahwa Naga Padoha tidak bisa dirantai. Ia tetap berusaha, kali ini ia memohon kembali kepada Ompu Mulajadi Na Bolon, dan melalui Leang-leang Mandi diserahkan  rantai baja yang baru dan terkuat dari segala rantai yang pernah ada dan sebuah pasungan disertai tiga macam senjata pusaka.  Senjata pusaka berupa: pertama, kerudung pelindung panas; kedua, tongkat dan ketiga pedang. 

Siboru Deang Parujar segera menemui Naga Padoha “Jika waktu itu kamu sendiri yang merantai, sekarang akulah,” kata Siboru Deang Parujar beralasan sambil menunjukkan pasungan dan rantai yang baru.  Naga Padoha nyengir dan menurut, "Perkara kecillah itu," ujarnya dalam hati. Tanpa membuang waktu Siboru Deang Parujar memasung dan merantai Naga Padoha.  Ujung rantai pengikat leher ditambatkan di tongkat Tungkotungko Sipitu Tanduk.

“Sekarang aku sudah terikat lagi,” kata Naga Padoha sambil terkekeh, “Aku menagih janjimu!” Ia yakin sekejap akan ditunjukkannya keperkasaannya kembali di hadapan pujaan hati.

“Sabar dulu, ya,” bujuk Siboru Deang Parujar, “Berpalinglah!”.  Naga Padoha berpaling, dan segera Siboru Deang Parujar menghujamkan pedang dari Ompu Mulajadi Na Bolon ke tubuh Naga Padoha.  Mata pedang menancap dalam ditubuh Naga Padoha hingga tinggal gagang pedangnya (suhul) yang menyembul. 

Naga Padoha berteriak kesakitan, “Amangoi…!!!, Inangoi….!!! Hansit nai, puang!!!!”  Ia mencoba meronta tetapi sekujur tubuhnya kaku dan lemah, sukar digerakkan.  “Oh, apa yang telah kau lakukan padaku, Deang Parujar,” rintihnya kepayahan. Nafasnya terengah-engah.

“Sudah menjadi bagianmu!” seru Siboru Deang Parujar.  Ia lalu meminta tujuh kepal tanah dari Banua Ginjang menimbun Naga Padoha.  Naga Padoha secara perlahan tapi pasti semakin terkubur dan tenggelam dalam himpitan tanah di Banua Toru.  Sebelum betul-betul terkubur habis, terdengar teriakan Naga Padoha terakhir kali, “Aku akan membalas perbuatanmu. Aku akan menghancurkan daratanmu...!”

Naga Padoha sudah ditaklukkan tetapi tidak mati, ia terbenam, dan tempatnya inilah Banua Toru.  Sekali-kali ia dapat menggerakkan ekornya atau badannya kaku terhimpit dan terpasung.  Gerakan Naga Padoha inilah yang menyebabkan gempa bumi (lalo) di Banua Tonga.[*]  Suatu saat apabila Naga Padoha berjaya melepaskan diri, terjadilah bencana yang dahsyat di atas bumi.  Peristiwa itulah sebagai akhir jaman, kehancuran Banua Tonga.


[*] Jika terjadi gempa, Suku Batak Kuno akan meneriakkan, “Sahul… sahul, sahul…”.  Sahul artinya gagang pedang, untuk mengingatkan pedang yang ditusukkan Siboru Deang Parujar agar Naga Padoha  akan berhenti bergerak.

TINGKI NA LIMA VERSI BATAK

 

TINGKI NA LIMA

Kala Senja (Botari) di Dataran Tinggi Toba (Foto, 2011)
Tingki na lima (dibaca: tikki na lima) atau "waktu nan lima" adalah pembagian waktu terang dalam sehari mulai dari torang ari (hari terang), pukul 05.00 WIB ke binsar mataniari  (matahari bersinar) sampai dengan bot ari (menjelang gelap) ke mate mata ni ari (matahari terbenam) , yaitu: 

1. Sogot ni Ari adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 WIB (pagi hari). 
    Asal kata : sogot = pagi. Sogot juga bisa berarti  besok (marsogot) atau 
    hari yang akan datang.
2. Pangului  adalah antara pukul 07.00 lewat s/d pukul 11.00 WIB (pagi 

    menjelang siang)
3. Hos ni Ari  adalah tengah hari ketika matahari berada pada titik kulminasi, 
    antara pukul 11.00 lewat s/d pukul 13.00 WIB (siang hari). Lebih spesifik:
    marhira hos = pukul sekitar pukul 11.00 WIB, jika dikatakan hos ari 
    atau tonga ari = tengah hari pada pukul 12.00 WIB.
4. Guling ni Ari, 
   Secara umum sebutan waktu antara pukul 13.00 (lewat tengah hari) s/d pukul 
   17.00 WIB (sore hari), dan secara khusus: guling ari: matahari mulai bergulir 
   (condong) ke Barat, pukul 13.00 s/d 15.00 WIB.  Jika dikatakan guling dao: 
   (bergulir jauh) mulai pukul 15.00 lewat sampai 17.00 WIB    
5. Bot ni Ari (Botari) adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 
   (petang hari). Asal kata, bot = hampir gelap, menjelang malam.


Tingki na lima atau pembagian hari dalam lima kurun waktu ini disebut juga parmamis.

Selasa, 22 September 2020

KISAH RAJA BIAK-BIAK

Ia Raja Biak-biak, margoar di huhut Raja Gummeleng-geleng na songon gumul do ibana ndang martangan, ndang marpat jala so boi hundul. Ibana do na lumea di bagasan ohana, ala so martihas angka anggina.

Mangihuthon baritana : Ro do sahali Mulajadi Nabolon, tuat tu Sianjur Mulamula sorang tu Guru Tateabulan mangunjuni rohana, ai dipangido ma anakna Sariburaja seatonna.” Ba saguru di ho do Ompung!” ninna Guru Tateabulan mangalusi. 
Umbege I, didok Raja Biak-biak ma tu inana : “O inang! Hubege dioloi amanta nangkining seaton ni ompunta Mulajadi Nabolon si Sariburaja, ianggo di rohangku, ahu do na naeng seatonna, ai aha ma ahu martimbangkon Sariburaja na so martihas I?. Asa ianggo siat pangidoanku suru ma damang manabunihon ahu, ai atik pe songon on partubungku ahu do sipultak bajubajumu!”.
Umbege hata ni Raja Biak-biak inana I, disuruma Guru Tateabulan manabunihon Raja Biak-biak tu Dolok Pusukbuhit.
Dung nangkok Mulajadi Nabolon tu bagas, dipangido ma Sariburaja seatonna. Jadi di lehon inana i ma. Didok Mulajadi nabolon ma : ” Tiop ma patna i!”, jadi di tiop ma tutu. Dung i diseat ma jala ditanggoi.Nungan di hodohon hian pangalompaanna. Ia dung sidung di anggoi dipambahen ma tu pangalompaanna i asa pamasahonna.Dung ro di pangalompaanna i, manggora ma Mulajadi nabolon didok ma :” Na olo gabe Sariburaja, ruar ma ho sian i!”, jadi mangangkat ma tutu Sariburaja sian i, laos hundul ma ibana tu halangulu. Nungan songon Garaga ibana, songon Garugu, na sada songon na pitupulu.
Mangihuthon pandok ni na deba, sian angka na tinggal i laos manjadi ma ragam ni pahanpahanan.

Ia di tingki na laho mulak Mulajadi nabolon tu banua ginjang, sian dolok Pusukbuhit do ibana manaek. Jadi jumpangsa ma disi Raja Biak-biak : ” Ise na mamboan ho tuson?”, ninna Mulajadi nabolon manungkun ibana.
” Ianggo i da ompung, na mabiar do ahu di biarhu, matahut di tahuthu!. 
Hubege nangkining diondam ho da Ompung seaton Sariburaja, anggo di rohangku ahu do na naeng seatonmu, ala na martihas i ahu. Gabe hupangido tu dainang asa disuru damang manaruhon ahu tuson. Ai ahu do sipultak bajubaju ni dainang.” 

Ba naeng marsomba tu ho di roham angka pinompar ni anggimi dohot ibotom?”, ninna Mulajadi nabolon.” Naeng ma tutu, ai ahu do sihahaan, ahu do na patut raja nasida!”, ninna Raja Biak-biak.”
Antong molo songon i, beha, olo do ho tumpaonku?”

”Ba olo do ahu, asal ma marsomba tu ahu angka pinompar ni anggingku dohot ibotongku!”, ninna raja Biak-biak.

Jadi di tumpa Mulajadi Nabolon ma Raja Biak-biak di dolok Pusukuhit i. Gabe, marpat, martangan, alai songon munsung babi (santabi) do munsung na.Mangihuthon pandok ni na deba marhabong do ibana. Di bahen ma goarna Tuan Raja Uti, raja na so ra mate, raja na so ra matua

Sian punsu ni dolok Pusukbuhit I, dipahabang Mulajadi Nabolon ma ibana tu ujung Aceh.

SUMBER:
BUKKU W.M HUTAGALUNG 1926. 
HORAS.

Parbadaan ni Datu Dalu dohot Sahang Maima

Parbadaan ni Datu Dalu dohot Sahang Maima
Najolo adong ma dua halak na marhahamaranggi na tading di sada huta, na sihahaan margoar Datu Dalu jala sianggian margoar Sahangmaima. Di na sahali dipauli Sahangmaima ma sada porlak, di suan ma di porlakna i gadong. Alai ro ma aili (wakka) manguge gadong i, ala ni i diinjam ma sada hujur sian Datu Dalu. Ia hujur i hujur homitan ompu nasida do i. 
Di na laho mangalehon hujur i Datu Dalu, didok ma:

“ Tung na so jadi mago hujur i ! 

Dung i dipantomhon Sahangmaima ma hujur i tu na manguge gadong i, hona ma pargisihan ni aili i, laos lohot ma mata ni hujur i disi, alai tinggal do anggo totoranna (hauna). Mangihuthon baritana, ianggo aili i maporus do tu banua toru jala laos lohot ma mata ni hujur i di daging ni aili i. Dung leleng so di paulak Sahangmaima hujur i. Marnida i ro ma Datu Dalu mangido hujur inon.

Datu Dalu:
”Boasa songon i leleng tioponmu hujur i ? Ai ugasan hatopan do i ! ”

Sahangmaima:
“Olo tutu do i, alai holan hauna nama dison ! Taihut do anggo matana tu aili na hupantom i. Hupatopahon nama singkat ni mata ni hujur i”

Datu Dalu:
“ Ah, ndang boi songon i, ingkon matani hujur i do mulak. Adat ni panginjamon, ia i barang na diinjam, ba laos i ma paulahon! Asa ingkon hujur na diinjammu i do paulahonmu.”

Sahang Maima:
 “ Adat ni ompunta ro di amanta : Aek na litok tingkiron tu julu, hori na rundut tingkiron tu rompean  ba, ndada toishu mangagohon hujur i, na hurang momos hian do. Ba aut sura pe i, boi do singkatan na so disi ! Ndada sisik nilangkophon, imbulu sinuanhon ho tu au. Hudok pe songon i, manang dia pandokmu singkat silehononku, olo do ahu , asal unang marbada hita, ai do adat ni pardongan sabutuhaon:

Ijur tarbirsak, pat tardege, tongka masipaihutihutan” 

 Datu Dalu:
“ Ndang boi singkat, ingkon hujur i do paulahonmu, “ 

Dung i sai marsak ma roha ni Sahangmaima, ala so boi jumpang mata ni hujur i di rohana; ai nunga di boan aili tu banua toru. Alani i diharahon ma donganna mambuat hotang tu tombak, dung godang hotang i, i ma dibahen nasida tali tantanni Sahangmaima martuat tu banua toru. Dung sahat ibana ro di banua toru, ditopot ibana ma sada huta disi, laho ma ibana hundul tu tarisopo na di huta i. Adong ma diida boruboru pangisi ni huta i na manduda di jolo ni sopo i. Ala i ro ma manuk mamarguti eme ni boruboru i, gabe ditullangkon boruboru i ma andaluna tu manuk i, hona ma jala pola magotap rungkung ni manuk i. Jadi muruk ma nampuna manuk i tu boruboru i, jala songononmapakkataion ni nasida.

Nampuna manuk:
“ E, ndang jadi mate ale, manuknami i, anggo ememu i hu singkat pe i.”


Panduda:
“ Denggan ! Alai manukku on ma singkatna tu ho, ai na mangolu do singkatni na mangolu ” 

Nampuna manuk:
“ Ndang ale, ingkon manukhu i do na mulak mangolu tu ahu, ” 

Umbege i marsak ma rohani panduda i gabe mangalu-alu ma ibana tu Sahangmaima. Alani i asi ma rohani Sahang Maima, songon arsakni rohangku do arsak ni rohana, ninna rohana dibagasan. Jadi didok Sahangmaima ma tu panduda i hatana lao mangalusi.

Sahang Maima:

“ Ale inang, molo dipatuduhon hamu na hulului on, boi do tarpangolu ahu manuk na binunumuna i ! ”

Panduda:
“ Ba aha ma huroha ?” 

Sahang Maima:
”Hupantom aili di banua tonga laos tarihut mata ni hujur i tu aili i. On pe molo diida hamu i paboa hamu ma ! ”


Panduda:
“Adong do amang boruboru mabugang di jabu an, na ro sian banua tonga, sai peak do ibana jala laos lohot dope basir dibugangna i nuaeng ” 


Sahang Maima:
“Ndang jolma dainang, na hutullang i, aili do ”

Panduda:
”O, ale amang, tung na jahat do i, tarbahen i do rupana mimbarimbar naeng manangko suansuananni halak, i pe disi do hujurmu i”.

Sahang Maima:
” Ba beha ma i bahenonta inang, mambuat i ? ”

Panduda:

” Ba pangolu ma jolo manuk na mate on, idaonni amani na mabugang i ma annon gabe dokkononna ma hamuna mangubati boruna i.”

Tongon tahe ninna roha ni Sahang Maima, gabe dibahen ma taoarna taoar pangabangabang taoar pangubungubung; sipangolu naung mate siparata naung busuk tu manuk i, jadi mulak mangolu ma manuk i tutu. Dipaulak boru panduda i ma manuk i tu nampunasa. Dung i tarbarita ma hadatuonni Sahangmaima di sandok banua toru, gabe dibege amani na mabugang i ma i. Dijou ma Sahang Maima mangubati boruna na mabugang i.

Jadi diparose Sahang Maima ma bugang i, nunga polpol tutu matani hujur i dibugangna i. Dung i diarit Sahang aima ma tandang suman ni matani hujur i. Bornginna i ditogihon ma na mabugang i tu lambung ni lubang-lubang, asa enetonna matani hujur i di rohana. Dipaula-ula dipandekdekhon pulung-pulungan ni ubatni na mabugang i, jala sai disuru ma isi ni jabu i mangalap tu bara, asa unang adong marnida enetonna matani hujur i di rohana. Andorang di toruni isini jabu i, dienet ma matani hujur i jala disolothon tu gontingna. Dipatuduhon ma tandiang sumanni matani hujur i tu parboru i, huhut ma didok:

“ Ah, na torbang do ganjang ni suga on, leak do songon i hansit dihilala!

Jadi las ma rohani parboru i, ai malum ma dirohana bugangni boruna i.
Hape tubu ma dipingkiranni parboru i songon on:

Pinangan ma Sahangmaima on asa binuat taoarna i.

Alai mamoto do roha ni Sahangmaima di tahi ni roha ni parboru i. Jadi andorang nok matana, hehe ma Sahangmaima mijur tu toru, alai diboan ibana ma sipu-sipu jala dipaula ma mangalului pulung-pulungan. Dung i di rahuthon ma sipusipu i tu ihur ni babi na modom di bara ni jabu i. Laho muse ma Sahangmaima tu alaman, di pajongjong ma disi gaol suman ni jolma. Ditali ma borong-borong jala ditambathon ma tu harbangan ni huta i, dipambahen ma dohot rambang-rambang. Dung i pintor manaek ma ibana tu hotang hamijuranna i.
Dung tarsunggul ama ni boruboru i, di parose ma di jabu i, hape ndang disi be Sahangmaima. Mijur ma ibana tu toru mangalului Sahangmaima, diida ma adong api dibara jadi didapothon ma tusi, ai dirimpu do disi Sahangmaima. Ditampulhon ma podangna, hape babi do hona laos mate. Dibereng tu alaman diida songon na adong jolma jongjong disi, jadi dilojong ma i jala ditampulhon podangna, pintor peak ma na tinampulna i, jala manigor diharat ma i, ala ni murukna, alai ngalingali do, ai batang ni gaol do i antong.
Dibege ma parngung-ngungung ni borong-borong dingkan harbangan jadi didapothon ma tusi, ai dirimpu ma i Sahangmaima, gabe maralitan ma ibana tu rambang-rambang i. Asa angkal ni Sahangmaima do na binahenna i, unang sanga eahan ni parboru i ibana di rohana.
Sian jut ni roha ni parboru i, diboan ma pitu asuna mangeahi Sahangmaima, alai nunga dao ibana manjangkit, jadi dijou parboru i ma ibana, didok ma:

Ale Sahangmaima, paima ahu, adong do saotik sidohononku tu ho”.

Umbege i dipagogo Sahangmaima ma manjangkit, dung lam jonok pangeahi i, digotap Sahangmaima ma hotang panjangkitanna i dingkan toruna, jadi matos ma, gabe madabu ma pangeahi i rap dohot onom biangna i. Alai sada sian biangna i margoar ”sampagatua” sanga do ibana manaek tu ginjang, mangihuthon pandok ni parturiturian, biang i do na mangutahon sahit sampusampu di banua tonga on. I do alana umbahen tar di painumhon halak mudar ni biang nambura, na sineat tu halak na sampusampuon.

Ia dung sahat Sahangmaima ro di hutana, dipaulak ma matani hujur i tu Datu Dalu. Alai sai gotos do rohana dipambahenan ni Datu Dalu i. Dipudian ni ari, dibahen Sahangmaima ma porlakna dilambung dalanni Datu Dalu, disuani ibana ma gaol diporlakna i. Di na sadari, marhorja ma Datu Dalu, jadi diharahon niolina ma donganna mangalap aek, tar holang do mual i sian huta. Alai di na mulak nasida sian pangalapan aek i, por ma udan, ditinggang ma nasida. Jadi dibuat nasida ma bulung gaolni Sahangmaima, bahen saong nasida.
Diboto Sahangmaima ma i, gabe ditopot ma nioli ni Datu Dalu.

Sahang Maima:

”Paulak bulung ni gaolhu i tu pambuatanmu, alai ndang jadi malos, ingkon sumuang do sian partubuna hian.”

Didok Sahangmaima ma huhut:
”Ndang boi singkat ali ni na mago, ia mas binuat, ingkon laos mas i do paulakon".

Datu Dalu:
”Ba, ia i daba, sumuan bulu do ho di lapanglapangni babi, umpungka na so uhum do ho marmulahon na so jadi. Ia i parsingiran, i do nian partungguan! Ahu do alom, hape tu ina do naeng sudolhononmu. Molo uhum sintong do i juap ma hita manguji; alai molo na gurgur do i sian uhum, lompo sian patik, ho na ripe talu, na ripe monang ma hami tumpahon ni ompu parsadaanta i.”

Sahang Maima:
‘Ba na so patut do ba pandokmu i, ai didok ompunta sijolojolo tubu: ”Ia duri sinuan, duri do dapoton, ho do na mandok, ndang boi singkat ali na mago, ba laos songon na binahenmu i do na hubahen tu ho, gabe sogo do roham.
Uhum sontong do i pandokmu i, juap (ndang talu ndang monang) hita manguji, alai anggo geduk na binahenmu i talu ma ho jala tullangon ni hujur buaton ni bodil. Tangihon ma pangkuling ni ompunta sisada pinggol on, na tangis so apulon na maila so dapotan on!”

Dung i masibodilan ma nasida pitu ari pitu borngin, juap do, ndang adong na talu. Dipahabang Datu Dalu ma losungna tu huta ni Sahangmaima, jala dipahabang Sahangmaima ma aek di bagas tabutabu tu huta ni Datu dalu, martaha ma i diginjang andorang so sahat tu tano, dung madabu tu tano gabe ma i dua ambar.

Didok Barita Naasing:
Rasirasa nuaeng, molo binuat aek sian ambar na dua i, jala binahen tu sada hudon, gunsang do aek i ala maralo. Asa marbingkas sian i ma parsalisiannasida, ala ni i ma gabe marserak pinomparnasida.

H O R A S

Cerita Tentang Guru Mangaloksa

  Cerita Tentang Guru Mangaloksa Oleh Heffri Hutapea    4 comments Guru mangaloksa Ia ompunta Guru Mangaloksa ima anak ni si Radja Hasibuan....